Derak bunyi kereta ekonomi melaju.
Itu mengiringi lamunanku. Sebuah lamunan keresahan. Sebuah lamunan kesedihan namun sebuah lamunan sebuah titik point tuk bangkit kembali.
Kemanakah mimpiku pergi? Mengapa aku tak berhasil meraih apa yang kuhasratkan semenjak aku duduk di bangku kuliah semester ketiga?
Apakah rencana Tuhan untukku? Apakah IA tak menyukai mimpiku yang kuyakin di dalamnya ada ribuan itikad baik berbaur idealismeku.
Malam itu kurenungkan nasibku.
Kali ini tak ada yang menarik di dalam kereta. Tak ada yang diajak mengobrol dengan asik. Hanya ada nenek tua di sebelah yang sering mengunyah kacang lalu tidur. Di depan, ada seorang perempuan belia yang menjadi buruh di Jakarta dan sepertinya terlelap nikmat dengan mp3nya. Dan di sebelah perempuan itu ada seorang pemuda yang lebih memilih merokok dibanding berbicara.
Malam itu aku ingin mencurahkan hatiku pada Sang Maha Hidup walau dalam keadaan yang kurang suci, kurang bersih dan tanpa tata cara ibadah mahdah. Tapi kuyakin DIA yang duduk di arasy itu mampu mendengar segala gundahku. Merasakan setiap tetes air mataku. Dan mengerti sejengkal demi sejengkal keletihanku.
Tuhanku yang kuyakini sepenuh jiwa, aku harus bagaimana lagi dalam menjalani jalan yang penuh liku? Tak cukupkah apa yang telah kukeluarkan dari semangat, kerja keras, materi, muka tembok dan kenekatanku tuk keluar dari pekerjaan saat ini, hingga mulut yang selalu berucap tuk memohon kuasa dan ridhaMu….
Untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat memberikan masa depan yang lebih baik. Dan untuk meraih mimpi yang kurintis dari beberapa tahun sebelum ini. Mimpi tuk memberikan nuansa pada dunia pendidikan yang kucintai. Mimpi tuk menjadi seperti Arif Rahman, Raka Joni ataupun HAR Tilaar yang tulisan-tulisannya mempengaruhi tulisanku.
Tuhanku, apa kehendakMu terhadapku? Aku tak ingin mengatakan bahwa kehidupan inti tak adil karena sudah sejatinya dan telah termaktub dalam kitabMu bahwa engkau tak mendzalimi hamba-hambaMu. Tapi, mengapa perih terasa di hati? Mengapa sesak di jiwa? Ataukah diri ini yang kurang bersyukur dan masih mengabaikan perintahMu?
Kereta melambatkan lajunya dan memberikan bunyi yang mendesing.
Itu tak menghentikan curahan hatiku pada Sang Pemilik Cahaya. Hanya DIA yang kuyakin mengerti semuanya hingga memiliki kuasa akan skenario setiap detil yang IA ciptakan. Tapi mungkin aku laiknya manusia pada umumnya, tak pernah memahami setiap hikmah yang tersampaikan. Bahkan mungkin keluar batas dari sebuah kemaslahatan yang telah IA berikan tuntunannya.
Tuhanku, salahkah mimpiku? Ataukah aku harus bersabar hingga waktu yang tak dapat ditentukan. Ataukah mimpi itu hanya dapat kujaga dalam jiwa namun tak dapat kugapai hanya agar aku terus berusaha—seperti kisah si penjual kristal di novel sang Alkemis?
Tuhanku, aku sudah melepaskan sebuah mimpi sebelum mimpi ini karena baktiku pada orang tuaku. Akankah mimpi ini yang direstui oleh orang tua, tak dapat KAU restui untuk kuenyam? Apakah aku kurang berbakti pada kedua orang tuaku? Maka terlaknatlah aku. Namun jika tidak, lalu mimpi yang seperti apa yang Engkau restui untukku?
Tuhanku, kemanakah mimpiku pergi?
Tuhanku, apa rencanaMu untukku?
Kereta menyapa satu persatu stasiun yang ada. Dan akupun terlelap kelelahan dalam pertengahan malam.
-----
Sebuah sayup suara berasal dari jauh mendekati telinga, mata, pikiran dan hati seorang anak manusia.
Anak manusia itu tengah lelah, sedih dan merasa tak memiliki harapan. Namun, anak manusia itu masih sempat tuk bertanya tuk tetap teguh pada keyakinannya pada makna hidup yang terbesar. Yaitu padaNYA.
Sayup-sayup suara itu berkata lirih sedikit berbisik;
“Mimpimu tak hilang dan pergi, namun Aku sedang menyiapkan mimpi yang baru untukmu. Tetaplah teguh dalam jalan cahaya dan terus berusaha. Bahwa yang baik itu tak pernah kandas oleh apapun di sepanjang jaman.”
Sayup suara itupun menghilang. Anak manusia itu bangun kemudian menatap langit yang tak berbintang dari jendela kereta ekonomi.
Kemanakah mimpiku pergi? Sudah tertulis dalam kitab keabadian. Hanya saja butuh upaya tuk menjadikannya nyata.
Try again never stop believe it. Try again don’t give up for your life. 1 November 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi-
(catatan kecil sebuah ensiklopedi) Ini tulisan tentang sebuah ensiklopedi. Di dalamnya ia menceritakan bagaimana seorang bernama Muhammad merupakan pejuang kemanusiaan yang begitu hebatnya. Ya, ia adalah Nabiku. Dan ternyata ia tak sekedar Nabi yang membawa kejelasan akan kebenaran namun juga pembentuk nilai-nilai humanisme dan universalitas yang kini seringkali didengungkan. Yaitu Islam. Ajaran yang dibawa oleh pejuang kemanusiaan itu. Ajaran yang tak hanya memberikan suatu bentuk ketauhidan, namun juga memberikan sebuah pranata sosial dan sistem peri kehidupan. Islam tidak mengajarkan adanya kasta, ada golongan, ataupun adanya sistem kelas. Semua manusia itu berasal dari satu material yaitu tanah. Bahkan mungkin terdengar sedikit hina karena tercampur oleh air mani. Namun, manusia dapat menjadi mulia karena keimanannya. Tidak ada yang membedakan satu manusia dengan yang lainnya kecuali atas dasar keberhasilan masing-masing untuk kembali atau berserah diri kepada Tuhan yang satu. Karena Islam itu berarti selamat dan berserah diri. Walaupun manusia tercipta dengan begitu beragam untuk saling mengenal dan memahami, Islam lah agama yang meleburkan semua perbedaan itu menjadi satu di hadapan Tuhan. Islam memiliki sebuah program serta sistem hukum dan peribadatan yang meletakkan dasar bagi suatu komunitas dunia yang di dalamnya ada perbedaan ras, warna kulit, budaya dan budaya. Dan bukankah perbedaan semua itu—dari ras hingga kedudukan; hanyalah konstruksi social manusia semata? Karena Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa hanya untuk saling mengenal. Adalah rukun Islam, pranata yang sanggup mengangkat nilai-nilai universalitas dan humanisme. Ketika shalat, semua manusia berdiri bersama-sama dalam shaf-shaf. Tidak ada yang membedakan siapa di shaf berapa. Mereka berdiri sama sejajar, mereka sujud sama rendah. Tidak ada seorang pun dapat memesan tempat shalatnya di masjid. Tak seorang pun memiliki hak istimewa untuk melangkahi orang lain hanya untuk mendapatkan shaf terdepan. Pranata inilah yang menghancurkan sistem kelas yang sempit dan kebanggaan akan keturunan. Manusia yang mendirikan shalat hanya ingat bahwa ia hanyalah hamba Allah dan ia adalah saudara bagi sesamanya. Ketika berzakat, satu sisi itu adalah ibadah pada Allah, namun di sisi lain, zakat merupakan instrument bagi manusia yang kaya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi manusia lainnya. Inilah pranata dimana satu manusia itu merupakan bagian dari manusia lainnya yang saling membantu dan membangun sebuah masyarakat yang sehat. Maka tak salah bila seseorang tidak akan memperoleh kebajikan sebelum ia memberikan sebagian harta yang ia cintai untuk saudaranya sendiri. Kemudian puasa. Memang, puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang ditujukan pada Allah, namun di dalamnya kita dapat merasakan hakikat sebuah ketaqwaan bahwa taqwa tak sekedar melakukan ritual-ritual penyembahan namun juga merasakan penderitaan sesamanya. Oleh sebab itu, kesalehan itu tak hanya bersifat pribadi namun juga sosial. Dan yang terakhir adalah Haji dimana itulah demonstrasi terbesar yang menujukkan persamaan dan persaudaraan manusia di suatu tingkat internasional. Semua manusia berkumpul bersama di Makkah dengan satu tujuan yakini menaati peritah Sang Illahi. Tak peduli orang dari ras apa, bangsa apa, pangkat apa, keturunan siapa semua sama dengan pakaian ihram yang sama—mereka hanya mengenakan dua potong kain putih sebagai tanda bahwa mereka akan mati dengan pakaian itu. Mereka juga bergrak dalam satu arah dengan penuturan yang sama; Aku datang memnuhi panggilan-Mu, Ya Allah. Inilah yang meruntuhkan semua konstruksi sosial itu. Saya jadi berpikir, ketika saya masuk kuliah di Psikologi, saya diajarkan doktrin bahwa setiap manusia lahir dengan membawa keunikannya masing-masing. Individual differences begitulah menyebutnya. Kini saya berfikir ulang ternyata ilmu psikologi itu konstruksi sosial manusia juga karena toh pada dasarnya semua manusia sama. Sepertinya konsep ‘melihat manusia’ itu perlu dibenahi. Tapi saya juga mendapatkan katanya ‘belajar psikologi itu juga belajar agama’? (akh, jadi ingin berdiskusi dengan Pak Sentot dan memulai pernyataan bahwa belajar agama lebih luas daripada kuliah 4 tahun di psikologi.) Dan ternyata Islam mengajari saya nilai dan rasa kemanusiaan itu. Kesemua pranata itu terhimpun satu dan diawali dengan keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Tuhan yang satu itu. Sebenarnya dalam ensiklopedi ini dijelaskan juga bagaimana Islam mampu menghilangkan sistem perbudakan, feodalisme bahkan meruntuhkan dominasi kapitalisme. Pun menjelaskan bagaimana Islam begitu menghargai dan menghormati kaum perempuan juga menghargai keberagaman dalam berkeyakinan. Namun, sepertinya itu menjadi tulisan saya yang terpisah saja karena saya masih berfikir dan merenungi tiap kalimat dalam ensiklopedia yang merobohkan banyak benteng pemikiran saya. Lagipula kalau tulisan saya terlalu panjang, ndak dikira tulisan opini koran atau artikel majalah. Padahal alasan saya saja yang semangat menulisnya mulai mengendur…. Dan untuk mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip bait lagu tentang pejuan kemanusiaan itu; Rindu kami padamu Ya Rasul Rindu tiada terperi Berabad jarak darimu Ya Rasul Seakan dikau disini Saya jadi membayangkan bila Muhammad hidup di jaman saat ini. Akankah saya dapat menjadi Khadijah-nya atau Aisyah-nya? Atau akankah kita menjadi Abu Bakar As-Sidiq yang rela mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya untuk syiar kebenaran? Atau menjadi Umar bin Khatab yang berani untuk menegakkan sebuah jalan keselamatan? Akh, sudahlah. Kita ini manusia akhir jaman yang berusaha tuk menjadi orang yang beriman. 27 September 2009 -gadis biasa- Keterangan Judul buku: Ensiklopedia Muhammad sebagai Pejuang Kemanusiaan Penulis : Afzalur Rahman Penerbit : Mizan
(Memory Flash fiction)
Fitria terus melangkahkan kakinya menyusuri pinggiran sungai Danube. Ia begitu menikmati suasana yang ditawarkan sungai ini ketika menjelang musim gugur. Matahari tidak terlalu memancarkan sinarnya, ia timbul tenggelam di balik awan-awan yang lembut. Sesekali angin yang membawa rasa dingin menghembuskan sweater dan jilbabnya.
Rasa lelah kakinya tak begitu terasa karena ia begitu terhanyut suasana. Padahal, jarak antara Freud Museum hingga Kleines café cukup jauh. Mungkin ada lebih dari lima kilometer. Entah, ia merasa tidak begitu sibuk hari ini. Mungkin juga ingin menikmati sungai Danube seperti di film ‘Before Sunrise’—film yang menjadi favoritnya ketika masih kuliah di Jogja dulu. Siapa tahu, ia menemukan penyair jalanan yang dapat membuatkan sebuah syair untuknya—seperti syair untuk Celine dan Jesse;
Daydreamed delusion Limousine eyelash Oh baby with your pretty face Drop a tear in my wine glass Look at those big eyes See what you mean to me Sweetcakes and...milkshakes
‘Ah, aku bukan Celine,’ kata Fitria dalam hati. ‘Namun, sepertinya aku bisa menjadi Celine tanpa Jesse.’ Lanjutnya sembari tersenyum kecil.
Fitria bisa saja memilih Landtmann Coffee House yang dekat dengan Freud museum karena masih dalam satu area; Schottenring And Alsergrund. Apalagi kafe itu dahulu seringkali dikunjungi oleh Psikolog yang terkenal dengan teori Psikoanalisisnya itu. Namun, baginya tak perlu sebegitu detail untuk mengetahui pola pikir Freud tuk menjawab mengapa ia dapat mengkonstruksi teori yang dapat dikatakan dasyat bagi dunia Psikologi. Walau begitu, Fitria pernah berkunjung ke café itu beberapa kali tuk bertemu dosennya yang begitu terpantok pikirannya oleh Freud.
Dan kini, sampailah ia di sebuah kafe kecil di pinggiran kanal sungai Danube; Kleines Café. Berbeda dengan Landtmann, Kleines ini termasuk kafe yang kecil namun dapat menawarkan minuman kopi yang unik. Karena rasa dan bangunan kafe yang seperti rumah-rumah di Vienna pada umumnya, ia menjadi salah satu pilihan sebagai tempat menghabiskan waktu.
Fitria langsung memilih tempat duduk di luar kafe yang dapat langsung berhadapan dengan Sungai Danube. Ia langsung membuka tas dan menyiapkan laptopnya, untuk menulis hasil temuannya tadi. Seorang pelayan kafe datang tuk menanyakan pesanannya. Fitria sedikit terpana pada pelayan itu, seorang laki-laki yang masih muda dan terlihat begitu ramah. Tanpa ragu-ragu, ia memesan secangkir hot chocolate dan sepiring Linzertorte. Kali ini ia tidak mengubriskan apa kata pepatah dimana Vienna begitu identik dengan kopinya.
-------
“Mau pesan apa mbak?”
Fitria terkaget dengan suara seorang laki-laki. Ia munculkan kepalanya yang sedari ia duduk di kafe itu, tenggelam di layar laptop. Laki-laki itu tersenyum ramah padanya. Dia masih muda, mungkin masih mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai pelayan kafe.
Fitria tergugup sedikit takut. Ini pertama kalinya ia pergi ke sebuah kafe. Keberadaannya di kafe ini sebenarnya adalah sikap nakalnya karena ia sedang tak ingin mengikuti rapat kaderisasi organisasi yang ia ikuti.
Sang laki-laki itu kemudian menyerahkan daftar menu. Fitria pun langsung melihat-lihatnya. Aneh, pelayan kafe itu justru duduk di hadapannya, menunggunya tuk memilih menu minuman dan makanan. Fitria pun melihat sekelilingnya selintas, betapa sepinya kafe ini, baru dua pengunjung termasuk dirinya.
“Kalau baru jam tiga siang seperti ini memang masih sepi mbak.” Ucap pelayan itu seakan mengerti apa yang sedang ia pikirkan. “Nanti kalau sudah jam setengah lima sore akan ramai.” Lanjutnya dengan senyumannya yang menawan.
Fitia hanya tersenyum membalasnya. Ia masih bingung memilih menu apa yang akan ia minum.
“Hot chocolate-nya enak mbak. Pilih yang dengan layer vanilla.” Lagi-lagi laki-laki itu berkata yang sejalan dengan alam pikirannya. Fitria pun menganguk setuju tanpa berkata sepatah kata pun. Namun, suatu hal kecil yang tak disadarinya, kedua pipinya bersemu merah muda.
Selang lima menit, laki-laki itu pun datang kembali. Ia kembali kaget karena ia sedang menikmati panorama senja dari jendela kafe. Laptopnya pun sedang memutar sebuah alunan musik klasik; Serenade dari Schubert.
“Ini mbak, vanilla layer hot chocolate.” Ucapnya dengan penuh senyuman kembali. Laki-laki itu begitu telaten dan rapi alam menyajikan menu kafe.
“Terima kasih.” Ucap Fitria pelan sedikit malu.
“Suka musik klasik juga mbak? Saya juga.” Tanya laki-laki itu ketika mendengar lebih jelas suara yang keluar dari laptop Fitria.
“Iya.”
“Kenalkan, Bimas. Bimas Abimanyu.” Laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya pada Fitria. Fitria pun tergagap namun malu. Ia tersenyum dan mengatupkan kedua tangan di depan dadanya, sebuah tanda ia tak ingin bersalaman dengan lawan jenis. “eng…Fitria. Lengkapnya Julita Fitria.”
Bimas segera menarik tangannya dan sedikit kikuk menghadapi Fitria. Namun, ia segera menutupinya dengan kata-kata, “Namamu bagus.”
-------
Semua manusia tak ada yang pernah menyangka bahwa sebuah hal kecil yang ditemui dapat menjadi kenangan indah di masa mendatang. Begitulah yang dialami oleh Fitria. Ia terkenang kembali akan hot chocolate pertamanya dan senyum seorang Bimas yang rupawan. Dari pertemuan itulah, ia mendapat teman untuk sekedar melupakan sejenak kesibukannya sebagai aktivis organisasi Islam. Mereka berdua saling berbagi hidup mereka walaupun ‘dunia’ mereka jauh berbeda.
Namun, Fitria tahu bahwa ia tak mungkin menjadi lebih dari sekedar teman bagi Bimas. Seorang gadis bernama Natalie, mahasiswi yang juga menjadi pelayan di kafe itu sepertinya begitu dekat dengan Bimas.
Bayangan Bimas masih bermain-main di pikiran Fitria. Ia masih teringat sebuah percakapan kecil mereka dahulu,
“Suatu saat nanti, aku ingin merasakan coklat di sebuah kafe di Vienna. Sembari menikmati panorama Sungai Danube.” Kata Fitria pada Bimas yang tengah menemaninya sembari mencatat menu pesanannya.
“Hei…keinginan kita sama. Aku akan menemanimu.”
-------
Fitria tersenyum sendiri mengingat semua itu. Walaupun kini, ia menikmati coklat di tepi sungai Danube seorang diri. Ia jadi sedikit berharap tiba-tiba sosok Bimas kan datang dan menemaninya di kala senja ini.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Hati Fitria kemudian sedikit berbunga. Senyumnya mengembang tuk mengangkat telepon tersebut.
“Assalammu’alaikum. Apa Kabar Vienna?”
“Waalaikumsalam. Baik. Apa kabar Kairo?”
Begitulah ucapan khas antara Fitria dengan suaminya, Faiz. Mereka berdua tengah sibuk menyelesaikan tesis di belahan bumi yang berbeda. Cinta suami istri itu harus tetap terangkai dengan komunikasi yang serba digital.
“Jaga diri ya Dek, kalau menghabiskan waktu di kafe.”
Fitria tersenyum mendengar nasehat suami tercintanya itu. Segala kerinduannya sedang terobati dengan kata-kata yang begitu lembut dan penuh rasa kasih sayang.
“Iya mas. Mas juga jangan lupa untuk talaqqi ya…”
“Pasti. Dek, Ana ukhibbuki fillah.”
ah, kalimatnya begitu syahdu dalam telinga dan hati Fitria. Iapun membalas, “Ich Liebe Dich, mas.”
“Lho kog jadi Jerman?” “Ah gak apa-apa, sekali-sekali.”
mereka pun tertawa kecil bersama.
20 Juli 2009
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-
buat Bimas, Juju dan Faiz....aku pinjam nama kalian yaaaa....
(Affectionate flash fiction)
Pantulan cahaya rembulan begitu sempurna di tengah air teluk yang mengalir tenang. Pantulan rambulan itu tak kalah indahnya dengan rembulan yang berada di langit. Memang masih separuh, belum sempurna bulat penuh. Namun, rembulan itu bagai mentari di malam hari yang membelah Teluk Bintuni di malam ini.
Rembulan separuh dan air Teluk Bintuni itu seakan menjadi saksi sebuah dialog dua raga, dua jiwa, dua pikiran dan dua dunia yang berada di dua kutub yang berseberangan. Malam ini mereka ingin menghempaskan segala perbedaan itu dengan duduk di hamparan pasir putih. Entah itu akan terwujud atau tidak.
Itulah mereka; Mita dan Andre.
“Aku suka memandangi bulan. Sayang bukan bulan purnama. Namun ini sudah cukup indah bagiku.” Ucap Mita yang pandangannya terus menghadap pada rembulan separuh itu.
“Ini malam terakhir kita di bumi Papua ini. Dua bulan terasa begitu cepat ya?” timpal Andre yang justru mengalihkan pembicaraan.
Mita tersenyum dan melihat Andre. Andre pun memandanginya lekat. Mita kembali menolehkan pandangannya menuju lautan luas tak bertepi. Bukan maksud tuk menjaga hati, namun Mita benar-benar tak kuat tuk menerima tatapan tajam Andre yang merobohkan pertahanan jiwanya.
“Setiap kali proyek, aku selalu merasa hubungan pertemanan akan berakhir ketika proyek selesai. Nanti ketika sudah kembali ke Yogya, kita dan satu tim kita paling-paling sudah lupa satu sama lain.” Suara Mita begitu tegas menggelegarkan hati Andre. Namun, hati Mita pun sebenarnya sakit tuk mengatakan itu.
Suasana hening seketika.
“Aku ingin kita selalu tetap berteman. Tetap saling menjaga hubungan, Tetap saling berkomunikasi. Apapun yang terjadi setelah proyek ini selesai.” Pinta Andre.
Mita terdiam. Tak terasa bulir air mata mulai membuat bendungan di sisi bawah matanya. Ia langsung mengusapkan tangan kanan pada matanya agar tak diketahui oleh Andre kalau ia menangis mendengar pernyataannya.
Mita hanya menganguk tanda ia setuju dibaluri senyuman. Dalam hatinya ia mengucapkan kata “Amin” berulang-ulang, semoga kalimat Andre itu menjadi sebuah permohonan doa padaNya.
Andre pun membalas senyuman Mita.
Rembulan separuh di teluk Bintuni berangsur-angsur mulai turun dan merapat pada air laut yang selalu tenang. Pohon mangrove dan hutan bakau menari seiring dengan pergerakan angin malam. Angin itu pula menyibakkan jilbab kaos Mita dan rambut Andre dengan lembut. Mereka tak duduk berdekatan, ada jarak diantara mereka. Apalagi bersentuhan. Namun, angin malam itulah yang seakan akan menyatukan aroma jiwa mereka berdua.
“Ndre, aku ingin meminta maaf padamu.” Ucap Mita mengagetkan Andre.
“Maaf untuk apa?”Andre bingung seketika.
“Kata Supervisor, aku ini orang yang tidak peka. Aku ini orang yang tidak dapat menghargai perasaan orang lain. Aku ini orang yang menutup rapat hatinya sehingga tidak memberi kesempatan bagi orang lain yang ingin mencintaiku.”
“Maksudmu apa?”
“Kata Supervisor, aku tak memberimu kesempatan untuk mencintaiku. Dan kini semuanya sudah terlambat, bukan? Kau sudah tak punya rasa lagi padaku. Aku minta maaf untuk itu. Aku benar-benar tak pernah berfikir kesana. Bagiku proyek ini adalah kerja, itu saja.”
Mita mengungkapkan semuanya dengan wajah yang merah merona. Merasa bersalah namun malu. Ia pun kikuk sekali, baru kali ini ia dapat berterus terang tentang masalah hati tanpa tedeng aling-aling. Yang seharusnya itu semua terjaga rapi di sudut hati.
Andre justu tertawa kecil mendengar pernyataan Mita. “Tenang sajalah, aku juga tak pernah berfikir ke dalam hal itu. Aku juga berfikir proyek ini adalah kerja dan mencari uang.”
“Jadi, apa yang dikatakan Supervisor tidak benar ya. Bagaimana bila hatiku jadi menyukaimu karena dibegitukan?”
Wajah Mita semakin merah merona dan terasa hangat. Ia hanya mampu melihat Andre di ujung mata sebelah kanannya. Ia tak sanggup mendengar jawaban apapun dari Andre. Begitu pula dengan Andre, ia tak pernah menyangka bila sesosok gadis seperti Mita mampu membuka hati bagi dirinya. Ternyata, bagaimanapun jua, Mita masihlah perempuan biasa. Andre terdiam dan berfikir melalui logika dan perasaannya. Ia tak ingin melukai hati Mita, namun ia jua tak yakin apakah Mita mau diajak berhubungan selayaknya orang pacaran. Sisi lain….mengapa masih ada Vina yang mengganjal di hatinya. Setidaknya masih ada rasa yang kuat dalam hatinya terhadap gadis itu.
“Mita…aa..ku sayang ka..mu.” ucap Andre terbata.
Mita terkaget mendengarnya, namun ia merasa Andre belum menuntaskan ucapannya.
“Aku sayang kamu…tapi…aku tak bisa menerimamu. Namun bukan berarti juga aku menolakmu.”
Dahi Mita mengernyit tak mengerti. Namun ia terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Andre.
“Aku yakin kau tidak mau menjalin hubungan seperti pacaran pada umumnya. Tujuanmu bila mencintai seorang laki-laki itu adalah menikah, bukan?! Itulah yang tak kusanggup. Dan lagi…” “Masih ada Vina, begitu bukan?!” seloroh Mita menangkap gelagat Andre.
Andre menganguk perlahan. “Walaupun aku dan Vina juga tak jelas. Kami hanya begitu dekat dan saling curhat-curhatan. Berbagi rasa setiap saat.”
Mita terdiam. Semilir angin dan suara gelombang laut terdengar begitu jernih namun kontras dengan hatinya yang kini ia merasa kotor karena terusik rasa cemburu. Air mata kembali hadir dalam kelopak matanya. Ia kembali mengusapnya dengan cepat sembari berkata dalam hati; untuk apa aku harus cemburu, toh aku bukan siapa-siapa bagi Andre dan tak dapat memberikan apapun untuk Andre.
“Bagaimana bila kita seperti saudara saja? Hubungan kakak adik?” tawar Andre mengusik hening yang terjadi beberapa saat lalu.
Mita terdiam. Ia menghela nafas, “Terserah padamu menganggapku apa. Tapi bagiku, selagi kita tidak melakukan pernikahan, kita hanyalah teman biasa.” Begitu berat rasanya bagi Mita untuk mengucapkan kalimat diatas dengan hati dan pikiran yang berkecamuk. Hatinya kini menangis lirih—hanya ia dan Tuhannya yang tahu.
“Dik…”
Mita kembali kaget dengan ucapan panggilan itu dari seorang Andre.
“Mulai saat ini aku memanggilmu, Dik Mita…” ujar Andre memperjelas.
Mita hanya tersenyum. Kemudian tertawa kecil. Mereka pun kembali bergurau dan berdiskusi hal lainnya di tengah cahaya rembulan separuh yang membelah Teluk Bintuni. Keheningan dan kehidmatan suasana menyelimuti canda tawa mereka berdua, walaupun di dalam hati mereka terasa bergemuruh tak tahu apa yang akan terjadi setelah kejadian ini nanti.
Dalam sudut pikiran dan jiwa seorang Mita, ia berusaha merangkai sebuah puisi yang mengambarkan jiwanya;
Aku ingin menyayangimu dengan cara yang berbeda, Kuungkapkan dengan puisi cinta yang tak terkatakan Dengan hati yang tulus namun tak tersentuhkan Dengan kepercayaan kesetiaan yang terjagakan Bila memang tercipta jalan tuk kita menyatu bersama
-----
Tak jauh dari tempat Andre dan Mita berada, ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka berdua. Sepasang mata yang ditopang pula oleh hati yang bergemuruh karena terbesit rasa cemburu. Sepasang mata seorang laki-laki dewasa yang bertekad tuk mengajak seorang Mita menuju pernikahan. Walaupun saat itu, ada seorang perempuan jelita yang tengah tertidur pulas di bahu kirinya. Sepasang mata itu milik sang supervisor.
-------To Be Continued-------
9 Agustus 2009 -gadis biasa-
Backsound tulisan ini: Moonlight Sonata by Richard Clayderman
Ps: Tuk Putri Bintang dan Pangeran Bumi (bukan nama sebenarnya) Terima kasih atas sharing kisahnya….
“Bangun Lee…subuh!” suara teriakan perempuan paruh baya melengking membangunkan seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun, Wisnu namanya. Wisnu pun membuka dan mengusap-usap matanya. Ia melirik pada jam tua yang tergantung di dinding, yah memang sudah jam setengah enam, pantas bila suara Ibunya sedikt melengking. Padahal ia sdang bermimpi indah. “Kowe ki turu suwe banget?!” Tanya Ibunya ketika Wisnu sedang berwudhu di sumur belakang rumah. Wisnu tak langsung menanggapi pertanyaan Ibunya, ia menyelesaikan wudhunya lebih dahulu. “Aku ngimpi apik, Mak. Aku ngimpi dadi presiden Indonesia. Pas aku dadi presiden kuwi, gak ada rakyat yang miskin.” Ibunya tersenyum geli mendengarnya. “Walah…Le…Le, aneh-aneh wae ngimpimu, arep dadi presiden. Lha, orang yang pinter, kecukupan tambah pangkatte jendral wae dadi presiden masih melupakan orang miskin kayak kita, apalagi kamu jadi presiden?” Wisnu tersenyum kecut mendengar penyataan Emaknya akan mimpinya. Sembari memakai sarung ia menimpali, “Tapi masak gak boleh aku dadi presiden, Mak?” Walaupun kedua tangan Ibunya sibuk dengan cuncung-cuncung es yang tengah digoreng dengan lilin parafin, ia masih sempat menanggapi, “Sekarang sing penting yang dihadapi wae, kowe sekolah sing rajin, bantu aku gawe cuncung, sesuk nek kowe wes gede jualan es neng Jakarta.” -------- “Nduk…tangi...subuh!” seorang peempuan paruh baya menguncang-guncang bahu seorang anak berusia sembilan tahun. Rani namanya. Rani pun melengos sedikit, “Sebentar lagi, Bu…” “Walah sebentar lagi piye? Ini dah jam lima lebih lima belas. Sebentar lagi ada yang mau makan di warteg kita. Kamu harus bantu Ibu.” Ucap perempuan paruh baya itu lebih gusar tuk membangunkan gadis kecil itu. Rani pun mengucek-ucek matanya. Ia pun bangun dan melangkah dengan gontai menuju sumur di belakang rumah. “Bu…Bu…aku ini lagi ngimpi apik, jhe!” “Emange ngimpi opo, Nduk?” Tanya Ibunya sembari men-serbet-i piring-piring yang akan digunakan untuk usaha warung tegalnya. “Itu lho Bu, aku ngimpi jadi pejabat DPR yang sering ditanyangin di TV. Pas jadi pejabat DPR itu, semua orang bisa sekolah tinggi sama sehat semua.” “Walah…Nduk…Nduk, tinggi banget mimpimu mau jadi pejabat DPR. Lha, yang saat ini jadi pejabat DPR itu sudah pada lebih hebat dari kamu, lebih pinter, lebih kaya pokokke lebih lah…tapi masih ada aja orang susah kayak kita.” Rani dengarkan celotehan Ibunya sembari mengambil air wudhu. Sebenarnya ia ingin segera menanggapi, tapi ia memilih menuntaskan dulu berwudhunya. “Emange, salah Bu, aku dadi pejabat DPR?” timpal Rani setelah berwudhu. “Bukan salah, tapi orang kayak kita ini mendingan yo hadapi saja kehidupan seperti ini. Sing penting kamu bisa sekolah dan besok kalo sudah besar, terusin warung ini.” -------- “Le…Le…sudah jam enam, ayo bangun! Subuh!” suara dan gerakan badan yang begitu keras menimpa seorang anak yang masih berusia dua belas tahun. Agus namanya. Agus pun menekan-nekan matanya dan melihat Simboknya yang tampak kesal membangunkannya. “Piye to Le, bangun kog jam segini? Sudah ketinggalan subuh trus nanti jualan kita ndak laku!” “Aku habis ngimpi apik, Mbok.” Jawab Agus santai sembari melangkah gontai ke sumur belakang rumah. “Halah, ngimpi wae dituruti. Ngimpi opo kowe?” Tanya Simboknya gusar namun ia kembali pada pekerjaan rutin tiap harinya, menyiapkan kue-kue kecil tuk dijual di perkantoran pengadilan kota. “Aku ngimpi jadi hakim agung buat negeri ini. Pas aku dadi hakim itu, semua masalah teratasi dengan baik. Semua orang bisa tertib.” Simboknya hanya tersenyum kecil mendengar cerita mimpi anaknya. Sembari menata kue-kue dalam bakul alumunium, ia menimpali cerita anaknya yang saat ini sedang mengambil air wudhu. “Gak usah neko-neko jadi hakim agung segala. Para hakim sekarang saja sudah pasti orang yang pinter, pendidikannya tinggi, orang yang punya duit banyak. Kalo mereka yang lebih dari kita aja susah untuk mengurusi masalah negara, apalagi kita yang hanya orang kecil, Gus?!” Suiara Simboknya mengalahkan suara air wudhu yang mengalir dari gentong pinggir sumur. Agus menahan diri tuk menaggapi pernyataan Simboknya. Setelah ia selesai berwudhu, sembari memakai sarung dan menggelar sajadah, Agus bertanya lagi pada Simboknya; “Yo sapa tau to Mbok, aku dadi Hakim Agung negeri ini.” “Wes to Gus, lakoni wae apa yang harus dilakoni. Sekarang kamu cepetan sholat trus mandi. Nanti kalo sudah, bawa bakul ini ke pengadilan kota!” ------- “Ta! Bangun! Subuh!” suara keras khas Mbakku membuatku terkesiap bangun dari tidur. Dalam keadaan setengah sadar, aku melirik jam wekerku, wah sudah jam setengah enam. Sialan, jam weker ini pasti eror lagi, kenapa gak berdering di angka 4.30?! “Kamu ini gimana to, Ta?! Sudah dua puluh tiga tahun masih dibangunin subuh!” lanjut mbakku sembari memasak lauk untuk sarapan. “Aku habis ngimpi bagus, mbak.” Jawabku santai sembari menuju sumur belakang rumah tuk berwudhu. Di tengah air yang mengucur dari keran air, aku mendengar omongan mbakku lagi. “Ngimpi opo menenh? Palingan ngimpi sama laki-laki yang kamu sukai sejak SMA!” ejeknya. Selesai menunaikan shalat subuh, aku duduk di meja makan yang ukurannya hanya muat untuk empat orang. Aku duduk di samping mbakku yang tengah sibuk melayani suaminya tuk sarapan. “Aku gak ngimpi pujaan hatiku mbak. Aku ngimpi tentang negeri ini. Dimana semua rakyatnya bisa sejahtera, sekolah bener-bener gratis, biaya kesehatan murah, birokrasi bisa transparan dan tertib. Dan yang paling penting, gak ada korupsi mbak!” Mbakku dan suaminya tersenyum simpul mendengar isi mimpiku. “Ta…Ta, mbok yo sadar, kamu ini kan sudah lulus kuliah. Sudah bukan mahasiswa lagi. Kenapa bahasan demo dan pergerakanmu masih kebawa mimpi aja sih?” Aku tertegun akan jawabannya. “Mbak, perjuangan kan gak berakhir hanya karena aku sudah gak kuliah lagi. Aku masih punya idealisme.” Mbakku malah tertawa. “Semua orang waktu muda seusiamu, juga bermimpi kayak gitu. Dan mungkin masih dibawa sama mereka-mereka yang sekarang duduk di pemerintahan. Mbok sekarang kamu hadapi realitamu saja. Usaha untuk cari pekerjaan yang mapan dan stabil kemudian cari pendamping hidup. Bantu keuanganlah buat kuliah adekmu dan bahagiakan bapak-ibu.” Ku dengarkan petuah mbakku itu sembari mengunyah roti tawar yang hanya dicelupkan ke dalam air teh panas. Apa yang dikatakan mbakku itu ada benarnya, namun entah mengapa rasanya mencabik-cabik pikiranku. “Mbak, kalo mereka yang duduk di pemerintahan juga punya mimpi yang sama denganku, dan dengan kebanyakan orang, kenapa negeri ini gak berubah maju?” tanyaku kembali. “Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang.” Canda suami mbakku mengikuti lirik salah satu lagu dari Ebiet G.Ade, favoritnya. Mbakku pun hanya tertawa kecil tuk menanggapi pertanyaanku. Huh! Tak menjawab permasalahan. Akupun meninggalkan mereka berdua tuk bersiap kerja sebagai buruh kontrak di suatu LSM. Dalam hatiku, kudendangkan sebuah lagu; Imagine dari John Lennon, You may say I'm a dreamer But I'm not the only one 12 Juli 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- Nb: terkadang kita terlalu banyak bermimpi hingga tak tahu harus melakukan apa untuk memperbaiki negeri ini. Namun, terkadang kita juga menyepelekan mimpi hingga negeri yang lebih baik itu tak pernah terwujud.
(Affectionate flash fiction) Kutegak habis benda cair yang berlabel ‘Jack Daniels’ lalu kulempar kuat-kuat botol itu ke sebuah dinding diskotik. Itu botol terakhir yang akan kuminum. Setelah ini, aku tak akan lagi menyentuh minuman beralkohol sejenis itu. ‘Praaaang!’ Aku dengar botol itu pecah, namun tak ada satupun manusia disini yang peduli. Semuanya larut dalam hingar bingar musik dan alam mabuk yang penuh belaian. Sedangkan aku, aku masih terjaga. Aku masih sadar sepenuhnya. Mataku menatap kuat pecahan botol itu. Pikiran dan hatiku terus mengulang-ulang satu kalimat; ’Sialan, kenapa bisa aku jatuh cinta pada gadis seperti dia?’ Kau yang tak kutemukan di diskotik. Bayanganmu begitu berkelebat dalam otak dan jiwaku. Menusuk-nusuk sumsum kehidupanku. Kau yang berwajah teduh dengan balutan kain jilbab begitu lebar. Kau yang tetap berusaha memakai rok walaupun harus melewati medan hutan yang begitu ganas ketika kita melakukan penelitian di Papua dulu. Kau yang selalu kugoda agar kulitmu bersentuhan dengan kulitku. Dan kau yang selalu menegakkan salah satu bentuk cintamu pada pemilik cinta diatas segalanya. Akh, kenapa wajahmu yang pendiam dan pemalu terus tergambar dalam pikiranku. Seolah-olah kau telah mengalahkan dua puluh wanita yang pernah bersamaku. Dan kau lah yang berbeda sendiri. Karena kau tak pernah terlihat seksi dan memakai polesan kosmetik. Karena kau juga tak pernah merayuku, membelaiku, memelukku apalagi bercinta denganku. Kau ini benar-benar kurang ajar! Tak pernah memberiku madu setetes pun, tapi pesona sederhanamu begitu mencabik-cabik harga diriku. Kau yang tak kutemukan di diskotik. Terbukti sudah firasatku tentangmu sejak pertama kali kita bertemu. Bahwa kau bukan orang gaul dan suka bersenang-senang. Kau yang selalu menyepi dengan aktivitas kelompok kecilmu di sebuah masjid. Kau bukan orang yang modern untuk mengikuti perkembangan jaman yang terlihat dari mode baju, selera musik dan film. Ketika ku katakan itu padamu, kau hanya terdiam namun sesaat kemudian kau menimpali, ’Meskipun begitu, aku tetap mengikuti perkembangan wacana pemikiran.’ Saat itu aku langsung mencibir padamu dengan berkata ’Bullshit!’ dan lagi-lagi kau diam seribu bahasa. Kau yang tak kutemukan di diskotik. Pedalaman Papua yang begitu ganas dan mencekam seakan memberiku kesempatan tuk mengenalmu—mengetahui sebuah ’dunia’ yang lain. Aku tak tahu mengapa Tuhan meskenariokan aku tuk bertemu denganmu. Seiring aku mengenalmu, seiring itu pula aku sadari sebuah relung hati yang kosong, kini memulai kehidupan. Sebuah pojok otakku yang biasanya layu, kini sedikit mengembang. Aku merasa keanehan. Sebuah rasa ketakutan yang aku sendiri tak mengerti. Entahlah! Hingga pada akhirnya kusadari, aku menemukan makna hidupku. Luruh raga dan jiwa ini tatkala menyadari ternyata akhir dari semua ini hanyalah kembali padaNYA. Karena semua ini milikNYA. Mungkin ini sebuah peringatan Tuhan melalui dirimu, bahwa aku ini hanya seorang laki-laki pecundang. Ya, aku selalu mempecundangi hidupku sendiri. Darimu aku ketahui bahwa hidup ini benar-benar pilihan. Untuk menjadi baik atau buruk. Untuk taat atau berontak. Untuk setia atau khianat. Dan yang paling penting adalah untuk mencintaiNYA atau menjauh dariNYA. Diri ini bagaikan ditimpa sebuah batu besar yang akhirnya membalikkan seluruh kesadaranku. Hingga aku tak tahu harus berbuat apa. Kau yang tak kutemukan di diskotik. Aku lelah dengan semua ini. Kulangkahkan kedua kakiku menuju pintu keluar diskotik. Setengah terkejut ketika tangan kiriku tertahan oleh sahabatku, Denny. ”Kau mau kemana, Andre?” tanyanya. Tanpa berfikir sedikitpun, aku menjawab, ”Ke Masjid.” Denny mengernyit heran, ”Apa yang kau pikirkan, Ndre? Apa karena Mita yang kau ceritakan itu?” Aku hanya terdiam dan melepaskan tangan kiriku dari tangan Denny. Sudah kuat tekadku tuk keluar dan meninggalkan tempat ini. ”Ndre, bagaimana dengan Vina? Kau tahu kan dia mengharapkanmu tuk jadi pacarnya...” Denny sepertinya tahu akan tekadku dan berusaha mencegahku. Aku memandangi Denny sekilas, lalu memandangi Vina yang tengah bergelayut mesra dengan mantan kekasihnya semenjak dua jam yang lalu. Aku kembali melangkahkan kakiku tuk keluar dari diskotik ini. Denny memanggil-manggil namaku, namun aku tak menanggapinya. Keputusanku sudah kuat. Aku akan pergi ke masjid. Bahkan setiap masjid akan kudatangi. Tuk menemuinya. ------to be continued------- 28 Juni 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- Backsound tulisan ini; I decide (Lindsay Lohan) I decide how I live. I decide who I love choice is mine and no one gets to make my mind up I decide I decide where I go. Where I mean,who I know longer the one whose run my life. I decide, I decide NB: Njar, sori aku masih sedikit ngikutin style-mu….
(Affectionate flash fiction) Ini sudah langkah kesekian ratusku dalam masjid ini. Dan aku tak pernah bosan. Setiap sore menjelang magrib aku terus melangkah pada sebuah bangunan masjid ini. Bangunan yang begitu suci dalam keyakinanku. Keyakinan pada pemilik cinta yang akan memberiku sebuah cinta yang kunanti. Aku menunggumu di Masjid ini. Aku yakin suatu saat nanti kau akan datang, walau hanya sekedar melakukan suatu kesadaranmu, yang sesekali hinggap pada otakmu. Ya, untuk menuaikan sebuah ibadah penghambaan pada Dzat yang menguasai segala. Aku percaya sepenuh jiwaku, jikalau kau masih memiliki dorongan kesadaran itu. Walaupun semua orang tahu bahwa kau begitu bahagia berkelana dalam dunia—secara pragmatis, berada jauh dari bangunan ini. Kau begitu damai dalam hingar bingar diskotik bersama minuman yang kau puja dan perempuan cantik yang tak terhitung banyaknya tuk mengagumimu. Aku menunggumu di Masjid ini. Aku tak pernah menyangka dan tak pernah merencanakan tuk bertemu denganmu. Kita hanya bertemu dalam sebuah proyek suatu lembaga riset universitas. Kita hanya pergi ke suatu daerah terpencil untuk melakukan penelitian bersama. Kita hanya berada dalam satu tim hanya untuk dua bulan semata. Tak ada sedikitpun terpikirkan pada dirimu dan diriku, tuk merasa saling jatuh cinta. Aku menunggumu di Masjid ini. Aku masih ingat, kau begitu kaget melihatku untuk pertama kalinya. Kau sangat terang-terangan menyatakan ketidakyakinanmu terhadapku. Aku yang kau katakan sebagai mahkluk asing karena kau tak pernah dekat dengan seorang gadis sepertiku, yang selalu memakai rok dan berjilbab lebar. ’Mita, Wilayah penelitian kita itu di pedalaman Papua, apakah kau akan kuat menghadapi medan di sana?!’, begitu katamu. Aku hanya terdiam dan berkata dalam hatiku, ’kita buktikan saja nanti, Andre.’ Aku menunggumu di Masjid ini. Pedalaman Papua yang begitu keras dan sunyi justru membuat kita saling dekat. Kedekatan itulah yang membuat koyak bendungan hatiku. Keluar sudah rasa dalam sudut jiwa yang semestinya terjaga rapat. Berderai air mataku memohon ampun padaNYA di setiap sujudku. Jiwa ini begitu terguncang dengan kata-kata ‘Mengapa bisa aku jatuh cinta padamu?’. Sekian waktu kita habiskan tuk bercerita satu sama lain. Mengetahui keadaan satu sama lain dan memahami semua diantara kita. Hingga kusadari sepenuhnya bahwa kita benar-benar berbeda. Kita berada di jalan yang berseberangan. Aku tak dapat menerima ’dunia’ mu. Begitu pula dirimu yang enggan tuk mencicipi ’dunia’ ku. Aku menunggumu di Masjid ini. Aku selalu yakin bahwa di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Semuanya sudah tertulis olehNYA dan menjadi takdir kita sebagai manusia. Aku telah memilih tuk mengikuti proyek penelitian itu. Aku telah memilih tuk terus melakukan penelitian walaupun di belantara Papua. Dan Allah mentakdirkan aku dan kau bertemu. Hingga ada satu pilihan kecil, aku memiliki ’rasa’ padamu. Kesemua itu, membuatku sadar. Allah telah membuka mata hatiku dengan mengenalmu. Bahwa aku tetaplah seorang manusia biasa yang tak dapat mengendalikan takdir. Aku menunggumu di masjid ini Aku sudah lelah dengan air mata di setiap waktu menghadapNYA. Pun lelah dengan doa yang selalu terucap sama. Doa yang mengindikasikan seakan-akan aku tak menerima pengalaman tersodorkan dalam hidupku. ’Ya Allah, bila memang aku dan dia tidak berjodoh, mengapa aku harus bertemu dengannya. Bila memang aku dan dia tidak dapat menyatu karena ’dunia’ yang begitu berbeda, mengapa aku harus memiliki rasa cinta padanya?’ Aku menunggumu di masjid ini Setiap senja akan tenggelam, aku terus melangkahkan kaki pada bangunan masjid ini. Entah sudah sebanyak apa langkahku, dan sebanyak apa sujudku, aku tak ingin menghitungnya. Pun sudah sebanyak apa doa yang selalu kupanjatkan untukmu. Namun, kemarin-kini-dan esok, doaku telah berubah. ’Ya Rabb, jagalah ia dimanapun ia berada. Tetaplah bersamanya dan berilah ia jalan cahayaMU. Karena ku yakin, Engkau ada dimana-mana.’ Begitulah. Itu karena aku masih mencintaimu. Dan ku yakin kau akan menemuiku di masjid ini. Suatu saat nanti. Namun, biarkanlah takdir yang menjawab masa depan kita. ------to be continued------- 27 Juni 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- Backsound tulisan ini; Takdir (Opick & Melly) Semua berjalan di dalam kehendakNYA Nafas hidup cinta dan segalanya Dan tertakdir menjalani sgala kehendakMU Ya Rabbi Kuberserah kuberpasrah hanya padaMU Ya Rabbi
“Ta, salah satu cara termudah tuk merasa bersyukur adalah berkunjung ke rumah sakit.” Ucap kakak sepupuku, mbak Prapti. Aku terdiam. Kami berdua berjalan di bangsal rawat inap satu (IRNA I) Rumah sakit Sarjito. Mata kami terus saja memandangi pemandangan umum ala umah sakit. Orang yang lalu lalang. Ada yang tergesa, ada pula yang santai. Ada yang wajahnya terlihat cemas, ada yang berwajah terlihat kosong. Hampa. Dokter dan suster terus saja berlalu lalang. Membawa catatan. Mendorong pasien dengan tempat tidur dorong atau kursi roda. Atau membawa alat medis lainnya yang aku tak paham namanya. Aku rasa, aku sudah tak asing dengan suasana rumah sakit. Sejak kecil, aku adalah tamu setia institusi itu. Hidungku sudah terbiasa menghirup bau obat ataupun antiseptik yang begitu terasa di rumah sakit. Bahkan sejak bulan April kemarin hingga saat ini, entah berapa kali aku mendatangi sebuah rumah sakit yang sama. Rumah sakit Dr. Sardjito. Bahkan mendatangi ruang-ruang yang sama. Dari UGD, IMC, Bangsal Cendana, PMI dan Apotek Hospita Farma. Aku bukanlah dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya yang bekerja di rumah sakit. Namun, sepertinya aku harus berusaha menyenangi kebiasaan berada di rumah sakit. Aku melihat puluhan orang di UGD dan IMC yang mengalami hal yang aneh-aneh, tak terbayangkan. Ada seorang pemuda yang tangannya kemasukan peluru (entah peluru darimana?). Ada pemuda lainnya yang wajahnya membesar sekali seperti buah semangka, hingga wajahnya tak dapat dikenali sebagaim wajah manusia. Ada seorang Ibu muda yang telinganya kemasukan cottonbath (alat pembersih telinga). Ada seorang bapak-bapak yang badannya penuh dengan luka, tak sadarkan diri, hanya mampu berteriak-teriak “ji...ro..lu...yoh!” sepanjang hari, aku curi dengar dari perawat yang ada disana, katanya bapak itu jatuh ketika dalam keadaan mabuk. Astagfirullah....batinku teriris, betapa kuasanya Tuhan begitu nyata. Ketika berada di bangsal, kulihat jejeran pasien-pasien yang terkulai lemas. Tatapannya lesu, tak ada gairah sedikitpun. Namun, aku yakin bibir dan hati mereka ada pula yang berucap doa pada sang pemilik segala. Ketika waktu menunjukkan waktu malam, akan terlihat sebuah pandangan yang biasa dimana banyak orang di luar bangsal yang tidur dengan menggelar tikar. Mereka adalah keluarga pasien yang asalnya dari jauh, ada yang dari Sragen, Purwokerto, hingga Bengkulu. Mereka sudah seperti tinggal menetap di rumah sakit—saudara mereka yang sakit tak kunjung sembuh karena saking komplikasi penyakitnya. Sungguh, menjadi orang sakit bukanlah suatu hal yang mengenakkan. Pun menjadi saudara dari yang sakit. Dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi itu semua. Hanya ada suatu keyakinan; Bila sakit itu adalah ujian dari Allah untuk menyadarkan diri ini, biarkanlah sabar menjadi obatnya, dan harapan akan luruhnya dosa menjadi doa keseharian. 22 juni 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- Buat para dokter, suster dan tenaga kesehatan lainnya; Sungguh mata saya berkaca-kaca melihat kalian semua bekerja dengan penuh pengabdian siang dan malam. Hanya Tuhan yang mampu membalas keikhlasan kalian.
Mungkin bila orang lain melihat dan mencermati pola pertemanan kami, akan berkata “Kalian aneh!” atau ”Pertemanan macam apa kalian ini?” atau yang lebih sederhana, ”Aku gak ngerti dengan pertemanan kalian ini...” Begitulah. Kalimat lontaran macam itu sudah sering kami terima. Dan memang begitulah kami. Dalam kamus kami seringkali ditemukan istilah ’saling mengejek’ ,’saling menghina’, ’Saling sok tahu’ dan sejenisnya hingga kami berpedoman bahwa tidak boleh salah satu atau salah dua dari kami yang lebih baik. Namun, bila ada yang lebih jelek, yah jelek bareng-bareng. Begitulah. Sebenarnya kami bertiga sudah saling kenal semenjak kami sama-sama memakai putih abu-abu. Namun, hanya dua orang diantara kami yang sudah kenal dengan dekat. Dan proyek bernama KKN Tematik lah yang kemudian mempertemukan kami kembali di kampus biru UGM. Selama satu setengah tahun itulah kami berjibaku dengan proyek yang sarat idealisme (atau sok idealis?!) dan penuh dengan mimpi yang tinggi (saking tingginya...kita jadi cuma ngawang-ngawang?!). Walaupun begitu, satu diantara kami yang bersedia jadi kormanit, dan masih ada satu diantara kami yang berkata lantang ” Aku memutuskan untuk tetap menjalani KKN ini dengan penuh niat!”, pun masih ada satu diantara kami yang gak terima ketika proyek KKN kami akan dibubarkan oleh LPPM UGM (lembaga penyelenggara KKN Mahasiswa_red). Begitulah. Keanehan kami terus berlanjut ketika KKN tiba. Ada satu diantara kami yang tega menjatuhkan yang lain dengan mengusulkan untuk menghapus salah satu program kerja karena menurutnya tidak berguna. Ada satu diantara kami yang tega mengatakan ”Nguyuh’o!” pada yang lain hanya karena bensin diesel air habis. Dan ada satu diantara kami yang tega menonjok yang lain ditambah berkata ’Dasar Gemblung!” pada yang lain sebagai pelampiasan kekesalan. Begitulah. Namun, tak ada kata benci, dendam bahkan sentimen sedikitpun dalam kamus pertemanan kami. Walau terlihat begitu banyak perbedaan, tapi kami sehati dalam tujuan sebuah tim kerja. Kami saling menyokong walau dengan cara yang berseberangan. Begitulah. Kami bertiga bagai sebuah segitiga. Masing-masing mewakili satu garis lurus. Walaupun ada yang panjang sekali, ada yang pendek, ada yang kurus, kesemua ujungnya saling menyatu. Walaupun bentuknya aneh, tetap saja bernama segitiga. Begitulah. Dan malam ini kurasakan kedua sisi segitiga yang lain begitu membantu dan menyokongku. Mereka datang tanpa ba-bi-bu dan langsung memberikan segepok darah mereka untuk membantuku—lebih tepatnya menyokong keberlangsungan hidup seorang nenek tua alias nenekku. Tak ada kata yang lebih pantas kuucap selain terima kasih yang beribu-ribu banyaknya serta doa padaNYA demi kebaikan kalian berdua, bro! Namun tetap saja, berkumpulnya kami tak lengkap bila tak ‘saling mengejek’, ‘saling menghina’ dan bercanda tawa hingga kami lupa bila kami berada di rumah sakit. “Eh, kog aku duduk di tengah kalian-kalian gini? Kayak apa aja?” tanya Umi heran. ”Anggep wae satunya setan.” jawab Adit santai. ”Orak Dul, awak dhewe iki sing setan kabeh! Hahaha...”serobot Rus. Kami pun tertawa lagi. ”Yoh rak dadi setan terus lah...sekali-sekali tobat, Bro!” komentar Umi serius. ”Yoh sip, Mi! Haleluya!” teriak Adit. ”Hooonggg...swastu...swastu...” ucap Rus. ”Uwis ah, dolanan agamane! Allahu Akbar!” serobot Umi. Kami lagi-lagi tertawa. Begitulah. Sulit tuk menjabarkan lebih detail tentang ’segitiga aneh’ itu. Entah karena saking anehnya, hingga rangkaian kata-kata pun tak mudah tuk menguraikannya. Hanya ada satu kalimat yang itupun masih absurd; Begitulah kami; Adit, Rus dan Umi. 17 Juni 2009 Dini hari -gadis kecil dengan jutaan mimpi-
(Just flash fiction) “Jadi…kamu belum pernah pacaran sekalipun?” tanya Satrio pada Nisa yang tengah memasukkan skor skala penelitian pada microsoft exel. ”Belum. Kenapa?” jawab Nisa tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari komputer. Sembari memainkan pulpen dan membaca sebuah jurnal penelitian, Satrio melirik Nisa. ”Mungkin...kamu perlu mencoba sesekali. Aku tahu pacaran bukan sebuah jaminan untuk menuju pernikahan. Yah, aku tahu, dari penampilanmu, kamu bukan orang yang suka menghabiskan waktu untuk pacaran. Tapi kamu tetap ingin menikah bukan? Suatu saat nanti.” Nisa menghembuskan nafas yang dalam. ”Begitulah. Jujur saja, dari kacamataku, dari nilai-nilai yang kupegang, aku tak suka perilaku-perilaku yang terjadi dalam pacaran. Sepertinya pacaran itu memfasilitasi lima belas tahapan hubungan seks antara lawan jenis. Seperti kata teori itu.” ”Aku tahu, tapi begini, maukah kamu melihat dari sudut pandang yang lain? Kamu merasakannya tanpa harus berteori?” ”Maksudmu?” tanya Nisa, kini pernyatan Satrio mampu mengalihkan pandangannya. ”Yah, mungkin kamu melakukan latihan pacaran, walaupun tidak pacaran secara serius...” bola mata Satrio tanpak bermain-main, sedikit menggoda Nisa. Nisa terdiam terheran pada teman satu penelitiannya ini. Selama ia kuliah, Nisa tidak pernah dekat dengan Satrio. Bahkan mereka belum pernah satu kelompok dalam tugas kuliah maupun praktikum. Namun, ketika musim skripsi mendatangi mereka—ketika beberapa dosen membuka ’penelitian payung’ yang membutuhkan mahasiswa untuk membantunya, sekaligus membantu skripsi mahasiswa pula, mereka menjadi teman satu penelitian. Dan lebih anehnya, dari satu angkatan mahasiswa Psikologi yang bejumlah 180 orang itu, hanya mereka berdua yang tertarik dalam pengkajian Psikologi transportasi. ”Bagaimana Annisa?” Tanya Satrio penuh tantangan. ”Kongkritnya?” Tanya Nisa balik. Kedua bola mata Satrio ditenggelamkan keatas tuk berfikir. Tak ada semenit, ia kembali menawarkan suatu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Nisa sebelumnya. ”Begini, bagaimana bila kamu merasakan hal yang paling umum orang yang sedang pacaran, yaitu pergi nge-date ketika malam minggu?” ”Nge-date? Apa yang harus kulakukan?” Nisa bergidik tak mengerti. ”Yah, mungkin makan malam di kedai kopi atau cafe? Atau nonton bioskop? Atau jalan-jalan dan berbelanja di mall?” jawab Satrio penuh yakin. ”Aku bisa melakukan itu sendiri tanpa harus mempunyai pacar.” jawab Nisa singkat sembari merapikan berkas-berkas skala tentang persepsi masyarakat terhadap lahan pejalan kaki di kota Yogyakarta. ”Ayolah Nisa...sekali lagi kubilang bahwa ini hanya latihan, tidak sungguhan. Kamu hanya cuma perlu merasakan. Satu kali saja.” ”Satrio, ingatkah salah satu teori dari Freud bahwa seks itu membuat ketagihan hingga manusia itu bergantung pada libidonya. Aku tak mau itu terjadi padaku.” Satrio terdiam. Ia cukup muak sekali pada temannya yang selalu saja berteori, seolah-olah setiap hal bersamanya hanyalah penelitian semata. ”Ok, Nisa..kamu tak perlu melakukan hal yang mengarah pada seks. Dibatasi saja hingga tahapan nomor dua. Atau bahkan kamu tak perlu bersentuhan dengan laki-laki. Bagaimana?” ”Baiklah, aku setuju mungkin itu seperti rapat dalam organisasiku hanya saja bedanya adalah terjadi di malam minggu dan tak ada agenda pembahasan arahan kerja.” ’Bagus kalau begitu, sabtu malam besok kita ketemu jam tujuh malam di kedai kopi.”Satrio tersenyum puas. “Kita? Aku harus melakukan latihan pacaran itu denganmu?” tanya Nisa selidik. ”Tentu saja.” jawab Satrio puas. ***** Malam minggu yang ditentukan tiba. Nisa menganggap itu sebagai sebuah permainan biasa. Ia tidak berdandan sedikitpun. Bahkan ia hanya memakai jilbab kaos bewarna putih, memakai kaos dan berjaket putih. Namun, ternyata Satrio pun tak kalah santainya. Ia juga hanya memakai kaos abu-abu dan berjaket hitam. ”Kamu telat, Nisa.” ucap Satrio. ”Maaf, kamu tak membalas sms, jadi kukira latihan ini tak jadi.” timpalnya santai. ”Kamu tahu, aku sudah makan satu porsi untuk menunggumu.” ”Ow...sekali lagi maaf. So, apa yang kita bicarakan? Bagaimana draft skala atensi pada rambu-rambu lalu lintas yang jadi bagianmu?” ”Aku sudah menyelesaikan setengahnya.” ”Segera selesaikan! Besok senin sudah harus dikoreksi oleh Pak Sugiyanto. Supaya cepat disebar.” ”Annisa, aku tahu itu. Tenang sajalah. Apa tidak ada bahasan yang lain selain tentang skripsi? Ayolah tell me about your self, your dream, your family apa sajalah...atau tentang film apa yang lagi bagus?” ”Emmm....bulan ini aku berencana untuk nonton Ketika Cinta Bertasbih.” ”Ahhh...setuju, aku juga suka dari soundtracknya yang bawain sama Melly.” Kemudian mereka pun bicara tentang diri mereka masing-masing. Tentang kehidupan yang mereka jalani. Mereka seperti orang yang tak kenal satu sama lain, karena banyak hal tentang Nisa yang baru diketahui Satrio dan sebaliknya. ”Jadi, salah satu fungsi pacaran itu untuk mengenal satu sama lainnya?” tanya Nisa berusaha menyimpulkan pembicaraan mereka. ”Ya, begitulah. Namun sayang, seringnya orang tidak menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran. Mereka selalu berusaha terlihat baik di depan pasangannya.” Tiba-tiba kedai kopi yang mereka singgahi mendadak penuh oleh pengunjung baru. Dan itu menimbulkan suasana yang berisik. ”Bagaimana bila kita pindah dari sini?” tawar Satrio. “Kemana?” “Ke Kafe X itu.” “Ok, sepertinya dekat. Kita jalan kaki saja. Biarkan motor kita parkir disini. Irit BBM.” ”Ok.” Mereka berdua pun berjalan kaki menuju kafe X. Mereka kemudian mengobrol tentang fakultas dan para dosennya. ”Jadi, nge-date malam minggu itu juga buat ngomongin orang ya?” tanya Nisa. ”ya gak juga sih, tapi itu memang selalu ada. Ah, kayak kamu gak pernah bergosip aja sama temen-temenmu.” Setibanya di kafe X, kafe itu terlihat penuh. Nisa menjadi enggan tuk memasukinya. Tiba-tiba ada sebuah ide bodoh memasuki pikian Nisa, ”Bagaimana bila kita pergi ke mall saja?” ”Ok, setuju, lagipula aku memang harus menghabiskan waktu hingga jam sebelas malam, aku harus menjemput teman kost-ku.” ”Tapi, aku tak mau hingga jam segitu...” ”Baiklah, sampai jam setengah sepuluh malam saja.” Timbang Satrio. Mereka pun menuju salah satu mall di Yogyakarta. Dan anehnya, tujuan pertama di mall itu adalah mencai toilet. Nisa melihat Satrio menunggunya di gerbang toilte wanita setelah ia keluar. Nampak pula beberapa laki-laki lain yang berperilaku sama seperti Satrio. ”Jadi, kalo pacaran itu, laki-laki menunggu perempuan di depan toilet hingga ia keluar?” tanya Nisa. ”Ha...ha...ha...masak kamu akan kutinggal? Kalau aku yang masuk toilet, pasti kamu juga akan menungguku kan?” ”Mungkin, tapi tidak di depan toilet kan? Hehehe...” Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menyusuri toko demi toko yang ditawarkan mall, salah satunya yang mereka masuki adalah Matahari, toko kumpulan baju. ”Aku kasihan melihat laki-laki yang harus mengantar ceweknya pergi berbelanja. Sepertinya laki-laki itu tersiksa, karena harus berputar-putar belum lagi membayar belanja ceweknya.” gumam Nisa ketika melihat ada pasangan di depannya yang tengah asik memilih baju. ”Kalau yang cowok suka dan senang, kenapa enggak?” jawab Satrio singkat. Nisa hanya tersenyum. ”Kamu tahu, aku punya keinginan bila aku sudah bekerja nanti, aku ingin membeli gaun. Namun hanya kupakai di depan suamiku hahahaha....”canda Nisa ketika ia melihat tumpukan gaun yang terpajang cantik. ”Howwww...tak membayangkan kamu memakai pakaian seperti itu hahaha...” Ketika mereka memasuki area pakaian pria...pembicaraan pun berlanjut, ”Aku mau punya Vest seperti ini.” kata Satrio sembari menunjuk Vest coklat dengan kancing yang sepertinya harganya mahal. ”Sepertinya tak cocok buatmu, yang ini saja.” tunjuk Nisa pada sebuah Vest Hitam ke-abu-abu an di sebelahnya. ”Ah, aku mau yang ini...” ”Terserah kamu, deh..” Nisa terdiam sesaat. ”Sepertinya obrolan kita ini gak penting banget ya? Apa gitu yang namanya orang pacaran, banyak obrolan gak penting?!” lanjut Nisa. ”Ha...ha...ha mungkin.” Suara mikrofone yang memperingatkan bahwa toko dan mall akan tutup pun terdengar. Mereka pun segera melangkahkan kaki keluar dari mall tersebut. Dan menuju kumpulan angkingan di daerah Kotabaru sesuai dengan saran dari Satrio. Nisa begitu kaget dan takjub melihat kumpulan angkringan remang-remang yang dipenuhi oleh anak muda yang sedang memadu cinta dan bercanda. Di kumpulan itu pula ada sekelompok pengamen berpenampilan ’Banci’. Tak lupa para perempuan sales rokok yang begitu cantik dan seksi. Ditambah cahaya rembulan purnama, lengkaplah sudah suasana malam itu. Mereka berdua duduk di salah satu kedai teh poci. Sembari menunggu pesanan mereka yang datang cukup lama, Nisa mengungkapkan bahwa ia pun pernah menyukai seorang laki-laki namun berakhir dengan tragis sebelum mereka bersama, karena laki-laki itu sebenarnya telah memiliki kekasih. ”Hey, mengapa kau memandangiku dengan tatapan syahdu seperti itu?” tanya Nisa heran. ”Tidak, mataku memang seperti ini.” jawab Satrio. Kemudian pesanan mereka datang. Dua gelas teh hangat—pengganti teh poci yang habis, dan sepiring kecil kentang goreng. ”Ekhm, kentang gorengnya asin sekali. Mana gosong pula. Segini harganya empat ribu? Mending aku beli di Carefour trus kugoreng sendiri di rumah.” Dumel Nisa. “Kalau gitu, kamu juga bisa membuat teh hangat ini di rumah.” “Berarti, pacaran itu menghabiskan uang ya?” ”Ha...ha...ha mungkin begitu.” Kemudian mereka bercerita tentang banyak hal, dari sebuah dunia nyata hingga keinginan Nisa yang ingin memiliki empat orang anak suatu saat nanti. ”Jadi bagaimana?” tanya Satrio. ”Maksudmu? Dengan melakukan seperti ini?” ”Kamu belum ada ’rasa’ sama aku kan?hehehe...” Nisa terdiam memikirkan pertanyaan Satrio. ”Aku sudah ber-azzam pada diriku sendiri, aku hanya akan mencintai laki-laki sepenuhnya ketika kami sudah resmi menikah. Bila sekarang ada ’rasa’ padamu atau laki-laki lain, kuanggap itu adalah cintra yang fitrah namun bertepuk sebelah tangan.” Satrio terdiam mendengar jawaban Nisa. “Kalau kamu sendiri terhadapku?” tanya Nisa balik ”Sebenarnya, aku masih patah hati dengan seorang gadis lain. Dan saat ini aku sedang mematikan perasaanku.” Malam pun terus melaju. Tanpa memperpanjang pembicaraan itu, mereka pulang ke peraduan mereka masing-masing dengan motor mereka masing-masing. 9 Juni 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- NB: Buat Nisa dan Rio, sorry aku pake nama kalian. Aku pinjam yah...
 Hanya satu kata yang menggambarkan rasa hatiku. Sedih. Dalam hitungan hari, jam, menit dan detik aku dan adikku akan ditinggal Faiz sekeluarga kembali ke Tangerang. Selalu saja, aku merasa mengapa waktu berjalan begitu cepat? Tak terasa dua tahun sudah Faiz sekeluarga mengisi kehidupanku. Setiap hari bercanda bersama (terkadang berantem juga...masih ada nih, bekas cakaran si faiz), bercerita dan curhat dengan mbak Ani, dan merasakan rumah yang bersih oleh mbak Kaya. Dua tahun bersama rasanya seperti mimpi. Mimpi rumahku begitu bersih dan rapi. Mimpi rumahku ada seorang anak laki-laki kecil yang begitu menggemaskan. Mimpi rumahku begitu ramai bagaikan setiap hari berada di tengah keluarga. Padahal ketika september 2007.... Aku begitu kaget dengan perubahan hari-hariku. Setiap pagi tiba-tiba ada seorang Faiz yang membangunkan diriku. ”Bak..ita..bak ita...bangun!” begitu celotehnya. Kemudian kaget jam 6 pagi rumahku sudah disapu dan di pel oleh mbak Kaya. Lebih kaget lagi, ketika mau beli makan tiba-tiba Mbak Ani sudah membeli lauk pauk. Aku begitu bahagia dan menikmati hari-hari di rumah bersama mereka. Faiz yang membuatku selalu ceria di tengah rumitnya skripsi ketika aku masih mengerjakannya. Mbak Ani yang selalu bersedia berbagi hati tuk curhatku akan masalah—dari soal kampus, kerja, agama hingga seorang laki-laki. Dan Mbak Kaya yang masih begitu remaja, yang membuatku gak ketinggalan jaman soal anak muda. Akh, indahnya. Dan rumahku akan kembali seperti dua tahun lalu. Hanya tinggal aku dan adikku di sebuah rumah yang menurutku cukup besar—hingga aku merasa kerepotan tuk mengurusinya. Memang, ketika September 2003 juga pernah tinggal seorang mbak Donna yang menambah suasana rumah, namun Juli 2005 mbak Donna harus kembali ke Tangerang. Selang dua tahun setelahnya...datanglah Faiz sekeluarga. Dan rumahku akan kembali seperti semula. Hanya tinggal aku dan adikku. Aku tak tahu bagaimana hari-hari ke depan. Sanggupkah aku mengurusi rumah sesuai dengan harapan orang tuaku di tengah rutinitas yang begitu melelahkan ini (hanya untuk kerja saja, aku harus pergi pagi, pulang malam). Dan dengan jutaan mimpi yang rasanya ingin kukejar namun serasa tak sanggup.... Akh, waktu harus berjalan. Apapun yang terjadi, harus dihadapi. Dan jiwa janganlah menyerah kalah. Bismillahiraahmannirahiim..... Spesial buat Faiz Sekeluarga.... Terima kasih untuk semuanya. Segalanya. Kebersamaan ini begitu berarti bagiku dan Wowo. Semoga amal kebaikan Faiz Sekeluaga dibalas oleh Allah SWT...dan tali silahturahim ini tetap terjaga. Suatu saat, kita ketemu dan kumpul di Serpong, Tangerang yaa.... 30 Mei 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- NB: Buat para perempuan yang hidup ngekos di Yogyakarta, silahkan kalau mau tinggal di rumahku. Syaratnya hanya bayar listrik 150 ribu/bulan dan mau tuk merawat rumahku bersama-sama denganku.
Entah dengan dasar apa, ketika aku masih memakai seragam putih abu-abu, aku memiliki motto hidup seperti ini; “Selalu yakinlah pada cahaya di ujung lorong.” Itulah kata-kata yang terangkai untuk memotivasi diriku sendiri. Agar dapat terus bertahan dengan hal yang dirasa pahit. Agar tak menyerah di tengah jalan. Dan terus berjalan hingga aku bisa menuntaskan apa yang harus kulakukan. Karena ada cahaya di ujung lorong. ’cahaya di ujung lorong’ itu terus kubawa hingga aku memasuki jenjang perkuliahan. Mungkin bisa dianalogikan bahwa aku melepaskan label ’anak SMA’ seperti telah selesai berjalan di lorong gelap dan akhirnya aku menemukan cahaya tersebut. Namun, ketika memasuki kuliah, aku masih merasakan hal yang sama. Begitu banyak kesulitan, begitu banyak masalah, begitu banyak yang akhirnya membuat air mata ini mengalir (atau aku ini seorang yang cengeng ya?). Itu semua kuanggap aku kembali berjalan di sebuah lorong lain yang lebih gelap dan lebih panjang. Dan lagi-lagi aku selalu yakin bahwa ada ’cahaya di ujung lorong.’ Suatu ketika, aku mengikuti satu kegiatan yang diselenggarakan oleh keluarga Muslim fakultasku. Saat acara kumpul bersama, ada seorang kakak angkatan memantik diskusi kami semua. ”Apa yang kalian lakukan bila ditimpa sebuah masalah besar?” Bermacam-macam jawaban yang keluar. Ada yang mengatakan bahwa masalah itu harus dipandang sebagai sebuah tantangan. Ada yang berusaha mencari solusi. Ada yang perlu menyerahkan pada sang Kuasa. Kuanggap jawaban itu benar dan memang begitulah hidup. Pada saat giliran aku ditanya, langsung saja kujawab, ”Ya, aku yakin ada cahaya di ujung lorong. Aku yakin akan ada kemudahan atau kebahagiaan di akhir masalah atau penderitaan itu.” Kakak angkatan itu terdiam sejenak, lalu bertanya kembali padaku, ”Bagaimana bila di ujung lorong, kamu belum dapat menemukan cahaya itu?” Aku terdiam, berfikir sejenak, ”Mmm...mungkin aku belum sampai ke ujung lorong dan aku harus berjalan kembali hingga menemukan cahaya di ujung lorong itu.” jawabku polos dengan tersenyum. Kakak angkatanku itu tersenyum memandangiku dan berkata, ”Tahukah Umi, cahaya itu sudah ada dalam dirimu.” Aku terperanjat tak mengerti. Namun lama-kelamaan kusadari bahwa kita yakin bahwa masih ada harapan di ujung sana, namun tak kunjung kita dapatkan, harapan itu sudah menyatu dengan diri kita yang tak pernah berhenti tuk berjuang. Harapan atas kebahagiaan itu tak lagi ada di luar diri kita, namun sudah bersama kita walaupun kita sedang merasakan suatu kepayahan sekalipun. Seorang Ibu repot mengurusi anaknya, setiap malam harus terjaga kemudian harus bangun pagi untuk menyiapkan ’hari’ seluruh keluarganya. Mungkin ia sedang kepayahan namun ia bahagia menjalani hari-harinya karena cahaya itu sudah ada dalam dirinya. Mungkin kita yang sedang menjalani pekerjaan. Setiap hari berangkat pagi, kemudian disibukkan dengan bermacam-macam tugas hingga baru dapat pulang malam hari. Kita merasa sedang berjalan di sebuah lorong, dan berharap bahwa suatu saat kita dapat melepaskan semua pekerjaan yang kita anggap masalah itu. Namun, dengan kita terus berjuang, melangkah, cahaya itu masuk dan menyatu dalam diri kita dan kita merasakan kebahagiaan dalam setiap hal kecil yang kita lakukan. Maka, pandanglah setiap hal dalam diri kita sebagai cahaya yang dapat membahagiakan diri kita dan teruslah melangkah menjalani kehidupan. 28 Mei 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi-
 Kalimat itulah yang terangkai dalam benakku selama aku bekerja. Hampir setiap hari aku berkunjung satu desa dan desa lainnya. Aku dan kawan-kawanku melakukan sosialisasi tentang program lembaga, mendekati aparat desa, menyiapkan event pertemuan, wawancara dengan masyarakat desa terkait dengan pendapat dan aset kekayaan mereka, hingga menemani program pelatihan mereka. Setiap kali melihat warga desa itu, hatiku begitu terenyuh....mereka yang lugu dan sederhana. Mereka tidak memikirkan hal-hal gila yang sudah begitu berceceran di dunia ini. Mereka tidak mikir krisis global, koalisi partai, facebook, strategi bisnis, asuransi masa depan, investasi, index bursa saham, pajak, teori-teori, dan sebagainya. Mereka selalu bersyukur akan datangnya pagi. Ketika matahari bersinar cerah, mereka berjalan menuju persawahan. Pelan-pelan tangan-tangan cekatan itu menyebar benih padi, menyebar pupuk dan air. Ketika lelah, mereka bersandar di bawah rindangnya pohon, dibelai oleh angin, sembari mengamati sawah tersebut. Dalam hati kecil, mereka berujar, ’semoga Tuhan berkuasa untuk membuat benih-benih ini menjadi padi yang baik.’ Aku pernah mendengar bahwa seseorang yang fakir (kekurangan materi) dekat dengan kekafiran. Artinya dimana seseorang tersebut dengan mudahnya mengobral keyakinan, prinsip hidup dan martabat hanya untuk mendapatkan materi tuk bertahan hidup. Namun, aku melihat sendiri dan semakin percaya bahwa masih ada mereka yang berkekurangan harta benda lebih mulia daripada kita yang sangat berkecukupan. Mengapa? Karena mereka bersyukur dengan apa yang diterima. Mereka tak pernah mengeluh dengan apa yang diberi. Bahkan mereka tidak pernah kecewa dengan sang pencipta, mengapa mereka hidup seperti itu. Suatu hal yang berarti adalah mereka tak merasa hidup mereka sulit. Mereka nikmati setiap hitungan detik dengan kebersahajaan penuh dengan kedamaian. Aku tidak menampik, bahwa ada pula orang desa 180 derajat terbalik dengan apa yang telah kupaparkan diatas. Ada juga orang yang seperti watak manusia kikir pada umumnya...begitu senang dengan adanya bantuan dari lembagaku. Kemudian yang terpikirkan adalah pemberian uang dan benda. Tak jarang pula, ada yang sempat berusaha melakukan bisnis dengan adanya program dari lembaga kami. Ketika kami pesan tenda dan soundsystem untuk acara warga, ada yang berusaha memberikan sewa dengan penawaran harga yang tinggi karena tahu bahwa lembaga kami punya banyak uang. Begitulah kesan setiap aku pergi melakukan tugas ke berbagai desa. Dan ketika sekembalinya ke kantor di kota, rasanya aku kembali disuguhkan sebuah realita hidup. Hidup yang modernitas, penuh dengan material, keras penuh per-sikut-sikutan (mungkin kalau tidak menyikut akan terdepak!), berkejar-kejaran dengan waktu...akh! Seakan-akan kesahajaan orang desa itu hanyalah mimpi. Padahal aku masih tinggal di Yogyakarta, yang katanya adalah kota yang ramah, damai dan santai. Bagaimana bila aku nanti kembali ke Tangerang dan Jakarta? Mungkin kesahajaan orang desa itu hanyalah angan belaka. Ah...jadi ingin tinggal di desa suatu saat nanti. Dimana ya enaknya? Krakitan atau Jotangan? Atau malah Giripurwo? Terong? Atau mungkin Salamrejo saja? Hhhmmmmmm...... 23 Mei 2009 -gadis kecil dengan jutaan mimpi- Kog tulisan ini gak sebagus dengan bayanganku ya? Waduh penurunan potensi ki...hiks!
Biarkanlah aku tertatih dalam jalan yang berbeda Bila ini yang terbaik dariNYA Biarkan aku terperih dalam ruang sunyi Bila ini sebuah penjagaan dalam koridorNYA Biarkan aku nyalakan lilin keyakinan Akan negeri keabadian Yang dijanjikan pasti olehNYA Karena semua ini hanyalah milik DIA semata. 17 Mei 2009 -gadis biasa-
 Sepertinya sejarah terus berulang. Dan kita tak pernah belajar dari sejarah. Bila seorang pejelajah hebat Julius Caesar takhluk pada Cleopatra, lalu seorang panglima keren Napoleon Bonaparte takhluk pada Josephine. Kini, karir gemilang seorang ketua KPK, Antasari Azhar harus kacau karena seorang Rani Juliani. ”Please deh, dia (Rani Juliani) cuman seorang caddy! Payah sekali!” ucap teman sekantor bernama Novi, mengomentari kasus yang sedang hot-hotnya itu. ”Iya. Perempuan itu seumuran kita lho, masih 23 tahun!” tambahku. ”Wah hebat dia! Masih 23 tahun sudah bisa cari uang sendiri dengan jadi caddy dan istri ketiga direktur BUMN (Nasrudin). Pendapatan dia bisa jadi lebih banyak dari kalian.” ungkap salah satu supervisor lapangan. Aku dan temanku hanya terdiam. Yah mungkin saja itu benar. Aku dan temanku yang paling junior di kantor, yang umurnya sama dengan Rani Juliani, hanya mampu menghasilkan sedikit rupiah. Sedangkan Rani Juliani, dia bisa mempunyai pendapatan lima kali lipat dari gaji kami sebulan. Entah mengapa, alasan pembunuhan Nasrudin karena masalah wanita bagiku adalah alasan yang GAK BANGET! Kalo misalnya alasannya karena jabatan atau kasus korupsi, itu masih sedikit wajar. Itu menurutku. Sepertinya sudah menjadi penyakit manusia bahwa ada tiga hal yang menjadi diburu oleh manusia untuk memuaskan nafsunya. Harta, Jabatan dan Wanita. Seorang manusia tak puas bila sudah mempunyai kekayaan yang melimpah bila belum memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi. Lihat saja para pengusaha atau artis atau siapapun yang punya uang banyak, pada berlomba-lomba menjadi legislator. Bahkan ada caleg suatu partai yang sudah tua banget, pengen jadi caleg hanya karena ia ingin mati sebagai pejabat DPR! Ketika harta dan jabatan itu sudah dimiliki, seseorang itu masih juga belum puas bila belum dapat memiliki banyak istri atau selir. Mungkin ini sebuah tanda bahwa ia memiliki segala hal di dunia. Ganteng/gagah, kaya, berkuasa dan dipuja banyak wanita. Adakah yang kurang? Inilah fenomena ketamakan manusia yang dari jaman dahulu sudah ada. Pola-polanya kurang lebih sama dengan bagaimana seorang raja dalam sebuah kerajaan ataupun kekaisaran. Padahal, beberapa kilometer dari pengadilan negeri tempat mengadili Antasari, masih ada perkampungan kumuh dimana orang-orang yang tinggal itu masih berfikir apakah masih bisa makan esok hari atau tidak. Masih ada orang-orang di desa yang pusing berfikir bagaimana membayar sekolah anaknya. Masih ada anak-anak jalanan dan anak-anak panti asuhan yang bimbang dalam merangkai masa depan. Masih ada masyarakat korban bencana dan konflik yang kesulitan untuk mendapatkan kondisi normal. Mengapa kita justru sibuk dengan nafsu kita? Akh, begitulah manusia. Aku tak tahu harus berkata apa. Akupun tidak dapat mengubah dunia. Aku hanya seorang gadis biasa yang masih berusaha memperbaiki diri. Pun menulis seperti ini. ”Aku mau jadi istri ketiga pejabat dan aku cuma minta disekolahin S2!” ucap Novi. ”Wah ya pejabat itu pasti minta sesuatu dari kamu seperti esek-esek begitulah.” tambah teman yang lain, Sari. ”Dan emang kamu wanita cantik, Nov?” ledekku sembari ketawa. ”Eh, tau gak, kemaren aku cuti ke Jakarta itu buat ngumpetin Rani Juliani. Ntar kuubah dia, gak lagi jadi caddy!” seru Mas Faran dari departemen monitoring. ”Trus jadi apa?” tanya kami semua. ”Jadi anak gawang* tim futsal kantor kita.” Gledak! Ternyata tidak hanya pejabat yang jadi eror dengan wanita cantik. Tapi juga para buruh macam kami ini. -gadis biasa- Nb: * Anak gawang = orang yang ngambilin bola di permainan sepak bola atau futsal bila bola itu keluar arena. Buat Rani Juliani: Saya haturkan maaf sebesar-besarnya. Saya tidak bermaksud mengejek ataupun merendahkan karena ada faktor kesalahan pula dari Nasrudin maupun Antasari. Saya tahu, ini semua menjadi beban hidup anda, saya pun belum tentu kuat menghadapinya bila saya menjadi anda. Bila anda butuh bantuan psikolog, saya akan usahakan bantu.
Sepertinya kehidupan di dunia ini semakin aneh-aneh saja. Bencana semakin beragam caranya dan di luar akal sehat manusia. Salah satunya adalah munculnya berbagai virus yang mengancam kesehatan manusia hingga mematikan manusia dalam sekali waktu. Bila dulu ada HIV AIDS (sampe sekarang juga masih…), lalu muncul SARS, lalu flu burung dan sekarang ada lagi, Swine Influenza. Katanya sih dikenal sebagai virus babi. Tapi katanya beda. Virus ini pertama kali ditemukan di Meksiko, hingga saat ini sudah ada sekitar 160 orang di sana yang sudah terkena virus ini. Lalu menjalar ke USA, Inggris, Jerman dan masuklah ke Asia yaitu Korea Selatan. WHO sudah mengumunkan kalo sekarang sudah dalam fase ke-empat dimana virus ini sudah menular dari manusia ke manusia dalam sebuah masyarakat dengan kelas kecil. Aneh dan kog bisa ya, virus yang awalnya ada di perut babi, penularan hewan-ke hewan, lalu merambah hewan dapat menulari manusia dan akhirnya manusia menulari manusia dalam masyarakat. Entahlah apakah virus ini akan menjadi pandemic atau tidak. Virus ini bikin banyak orang kelabakan. Dinas Kesehatan langsung bertindak untuk mengadakan alat pemindai suhu tubuh di setiap pintu masuk negara kayak bandara dan pelabuhan. Selain itu para rumah sakit juga siaga untuk menyiapkan ruangan isolasi kalo-kalo ada orang yang terkena virus itu. Bahkan perekonomian negara kita ini, akan mengalokasikan dana 38 milyar untuk mengatasi virus ini. Kata seorang teman dari Kedokteran UGM, ini semua terkadang hanyalah konspirasi. Konspirasi bahwa flu itu akan menyerang, kemudian pemerintah akan mengalokasikan dana besar untuk virus yang belum nyata itu. Jelas-jelas, selama ini angka kematian tertinggi penduduk Indonesia disebabkan oleh diare atau muntaber (Kalo info temanku ini benar, jelas banget kalo negara kita ini kekurangan bahan pangan yang sehat!). Mungkin ini sama seperti konspirasi flu burung yang dicoba dikuak oleh Bu Menkes kita, Siti Fadilla Supari. Walau belum baca bukunya, tapi setahuku, dengan adanya flu burung itu, pemerintah Indonesia jadi menerima banyak penawaran dana asing untuk mengatasi flu tersebut, baik dalam segi pengobatan secara praktik maupun penelitian mengenai flu tersebut. Lalu muncullah banyak proyek mengenai virus itu, dari kalangan universitas, praktisi medis hingga LSM. Yang menyebalkan adalah ketika pemerintah Indonesia mengirimkan banyak sample virus ke luar negeri, lalu oleh salah satu negara adidaya diolah dijadikan antivirus, kemudian Indonesia harus membeli antivirus tersebut. Sudah dana asing yang masuk untuk flu tersebut adalah hutang, eh anti virus yang awalnya adalah jerih payah para ilmuwan Indonesia, harus dibeli juga oleh pemerintah. Kalo begini kan negara kita ini sedang dibodohi?! Atau ditolong tapi yang mau nolong itu gak ikhlas?! Ya to?! Di luar wacana yang secara umum dapat diakses itu, ternyata masalah ini juga bikin ribut di kantorku. Tiba-tiba kantorku menjadi obsesif compulsif terhadap kebersihan. Secara para petinggi kantor adalah para bule-bule itu yang terlalu cemas, atau sengaja dibuat cemas akan virus ini. Dan akhirnya diadakanlah sosialisasi mengenai virus ini di kantor yang harus dihadiri seluruh staff. Termasuk aku yang hanya sebagai buruh kasta terendah. ”This virus comes from Mexico. Do you know where Mexico is?” asked Miss Cxxx, The head of Monitoring and Evaluation Unit. Duh, plis deh Miss….kita gak bego-bego amat. Meksiko kan central America, near with your country, kataku dalam hati. “This virus is very dangerous, it can transfer from people to people. Moreover in this country because no distance between one people to another. Different with America or Europe which any distance.” Waduh…miss…ya memang di Indonesia terbiasa untuk cipika-cipiki sebagai tanda persaudaraan. Tapi masih dalam batas wajar kog. Dan pasti si Miss Cxxx ini tidak melihat beberapa orang yang gak sembarang cipika-cipiki terutama dengan lawan jenis. Justru yang pendapatnya perlu ditanyakan kembali, sepertinya di luar negeri itu sangat bebas sekali untuk ber-cipika-cipiki hingga ke dalam-dalamnya kalau sudah sedikit kenal dan sedikit dekat, gumanku dalam hati. Kemudian isi sosialisasi itu berkisar bagaimana ada tim manajemen krisis untuk mengatasi flu ini di kantor. Ada skema untuk menyadarkan diri sendiri bila merasa flu, apakah itu swine influenza atau hanya flu biasa. Setiap pagi ruangan kantor akan disemprot desinfektan. Sabun di kamar mandi diganti dengan sabun antiseptic dan tersedia tisu yang semakin banyak. Disarankan setiap staff memiliki cairan antiseptic (lalu digunakan setiap akan makan) dan thermometer. Dan bila virus ini semakin parah, maka para petugas lapangan (termasuk aku…) wajib memakai masker! Sekalian aja aku bercadar, kataku pada salah satu rekan satu tim. Namun yang paling menyenangkan dari sosialisasi swine influenza di kantorku adalah, ”If you feel not good, flu, dizzy, weak and wrong orientation, you should not go to work and do work at home!” Asiknya! Yah lepas dari apapun wacana yang beredar tentang swine influenza ini, semoga negara kita ini dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin. -gadis biasa-
 30 April 2007 Ini saat terakhirku melihat kamu Jatuh air mataku menangis pilu Hanya mampu ucapkan selamat jalan, sahabat (Saat Terakhir-ST 12) Sebuah sms datang ketika magrib di Psikomedia-ku yang sangat berisik. Ass, Umi, ucok (andra ahmadi 4tex) anak batan. meninggal hari ini karena kecelakaan. sebarin ke yang lain. From: Maheluv (sahabatku tercinta) Aku terdiam dalam hati, aku bahkan masih sempat cakakak-cekikik dengan beberapa anak Psikomedia. Tapi beberapa menit kemudian, aku menangis... 30 April 2009 Apa kabar sahabatku? Dapatkah kau menjawab pertanyaanku dari sebuah alam lain yang hingga kini belum kumengerti? Maaf, aku baru mengunjungimu tiga kali. Aku tahu, aku jarang sekali pulang ke Batan. Kau pasti akan berkata, aku sudah lupa dengan segala hal tentang Batan. Tentang Serpong. Tentang Tangerang. Tidak sobat, aku masih ingat semua. Masih terkenang semua. Pun merindukan masa lalu itu. Aku masih ingat bagaimana kita belajar bersama—dimana kau selalu memintaku tuk mengajari soal-soal PR sekolah kelas tiga SD. Aku masih ingat bagaimana blok rumah kita memenangkan lomba baris-berbaris tingkat komplek, dan setelah itu kau memaksa Okem si penjual mie ayam untuk menggratiskan mie ayamnya untuk satu tim kita masing-masing satu mangkok. Aku masih ingat bagaimana kau selalu mengajakku dan teman-teman lainnya untuk bermain di bukit merah belakang komplek bila tidak ada jadwal mengaji di masjid. Di bukit merah itulah, kita puas bermain tanah—berguling-guling, berlarian, perosotan hingga baju kita penuh kotor dengan tanah. Lalu kita hanya tersenyum senang saat para orang tua marah-marah. Itulah senja yang indah untuk pertama kali dalam hidupku. Aku masih ingat bagaimana kau mentertawaiku karena aku tercebur ke comberan ketika bermain petak jongkok. Kau bilang, ”Mi, ngapain Elo mandi kembang malem-malem?” Dan aku hanya mampu menangis kemudian pulang ke rumah. Pertemuan terakhir kita ketika lebaran tahun 2006. Saat itu kau menjadi pusat perhatian orang-orang satu blok rumah karena penampilanmu yang seperti Pak Haji. Saat itu pula, kau bercerita tentang masalahmu dengan pacarmu. Pacarmu selingkuh dan kaupun selingkuh. Kau jadi tak fokus kuliah, setiap akhir pekan kau tempuh perjalanan Purwokerto-Tangerang untuk mengurusi pacarmu yang selingkuh itu. Kau pun mengenalkan pacarmu padaku. Dengan bangganya kau berkata pada pacarmu bahwa aku adalah temanmu sejak kecil, sejak TK hingga kuliah. Dan kalimat yang tak akan pernah kulupa, kau berucap, ”Mi, temen itu untuk selamanya. Bagi gue, lo adalah temen gue selamanya. Gak ada yang namanya bekas temen. Beda ma pacar, kan ada tuh mantan pacar.” Aku menganguk mantap bahkan berkata, "Cok, besok calon suamiku mungkin harus kenalan denganmu dan akan meminta cerita tentangku dari kamu." Terakhir, saat itu pula aku tahu bahwa kau sering mengantuk ketika menyetir mobil. ---- Sahabat kecilku, Tak ada yang berubah dari persahabatan kita walaupun kau sudah mendahuluiku berada di alam sana. Mendahuluiku tuk merasakan jannah-Nya dan bertemu denganNYA. Terima kasih atas pelajaran terakhirmu, bahwa ada satu hal yang lebih dekat dari segala aktifitas hidup kita. Satu hal itu tak pernah kita persiapkan bahkan kita rencanakan. Satu hal itu adalah kematian. ”Sudah siapkah bila DIA mengambil kembali hidup kita? Tuk hidup di alam bernama akhirat?” -gadis biasa-
 “Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima….” (Firasat-Rectoverso-Dee) Ya Allah, aku masih memuja Engkau dalam hati yang rapuh. Aku masih mempercayai Engkau dalam pikiran yang berkelut. Tapi mengapa Engkau berikan rentetan peristiwa yang tak mengenakkan ini? Kulihat derai air mata itu. Kurasakan sesak nafas itu. Ya Allah pelajaran ikhlas bagaimana lagi yang harus kupelajari? Ataukah mungkin aku ini hanya mampu mengeluh? Sedangkan masih banyak saudara-saudaraku yang teraniaya di luar sana...karena perang, kemiskinan, kecacatan dan sebagainya.... Dengan mata yang berkaca-kaca, Ibu merengkuh anak-anaknya, ”Semua akan baik-baik saja. Kita hanya harus lebih bersiap apapun yang akan terjadi...Mungkin inilah jalan yang terbaik dari Allah...” Aku hanya mampu menghela nafas begitu panjang. Dan berharap bahwa semua ini akan ada hikmah. Apa yang akan terjadi kini, hanyalah akan menjadi masa lalu pada nantinya. Dan tak ada satupun manusia yang mampu mengubah masa lalunya. Hanyalah ada dua pilihan sebagai eksekusi terhadap masa lalu, terbenam dalam kesedihan dan tak melakukan apapun, ataukah menyesal kemudian mengevaluasi diri dan melakukan sesuatu yang lebih baik untuk masa depan. Apakah dengan masa lalu yang kelam kita dapat mengubah hidup kita tuk lebih cerah? Apakah dengan kesedihan ini kita tak dapat mencapai kebahagiaan? Dalam air mata yang telah mengering, aku yakin bahwa Allah itu Maha Adil, IA mengetahui apa yang hambanya usahakan. Karena tak ada pengorbanan yang tulus itu berakhir sia-sia. ”Hidup itu seperti pola yang sederhana. Berusaha-menerima-berusaha lagi-menerima lagi, begitu saja seterusnya. Itu semua menandakan bahwa DIA masih ada, Nak...” Ya, Bu. Kita akan melangkah kembali.
Tak seseorang pun yang ingin bahkan bisa merencanakan sebuah musibah. Tak seorang pun dapat menyangka bahwa hal kecil dapat mengakibatkan suatu tragedy yang menyesakkan jiwa. Andai waktu dapat diputar kembali, aku tak akan melakukan hal konyol itu. Namun, tak bisa. Itu sudah menjadi takdir dari skenario Sang Khalik. Minggu, 12 April 2009 jam 18.00 Tiba-tiba lampu di kamar adikku redup dan mati. Wah perlu diganti. Akupun memberinya uang untuk membeli lampu. ”Tapi besok diganti ya, pake uang sakumu bulan depan.”kataku setengah becanda... ”Wah, gak ikhlas ki...” jawab adikku ”Gak..enggak...” Adikku pun membeli lampu. ”Cepetan kalo mau pasang lampu sekarang, aku mau pergi ni ke ketemuan repertoir FLP.” ”Iya...iya!” Ketika aku membawa kursi untuk masuk ke kamar adikku, tiba-tiba...gluduk dan prang! Lampu baru yang baru dibeli sekaligus harganya mahal itu pecah seketika. Aku marah! Mungkin harganya itu hanya seper berapa dari gaji bulananku, tapi tetap saja rasanya kesal, sudah berbaik hati membelikan malah dipecahkan di hadapanku. ”Udahlah, kamu beli lampu sendiri sana!” teriakku sembari berlalu pergi. ”Halah Gita, Wowo kan gak sengaja...”kata mbak Ani dengan lembut, namun aku tetap cuek dan pergi. Senin, 13 April 2009 jam 18.45 (sepulang kerja) Aku melihat kamar adikku masih gelap tanpa lampu, selain itu adikku malah belajar di depan televisi, itu bukan kebiasaannya mengingat tinggal hitungan hari akan UAN. ”Wo, lampu kamarmu itu kog belum diganti?!” Adikku setengah kaget mendegar suaraku yang sedikit berteriak sepulang dari kantor. Dengan santainya ia menjawab, ”Besok aja, nunggu Ibu pulang!” Apa?! Ibu pulang kan ketika adikku UAN, sekitar beberapa hari ke depan. Saat itu aku pikir, adikku ini menyiksa diri sendiri saja. Selain itu, aku pikir Ibu akan marah padaku karena akan beranggapan aku tak memperhatikan adikku dengan membelikan lampu. ”Jangan tunggu Ibu pulang! Besok cepet diganti! Mau UAN kog belajarnya kayak gitu?! Beli napa lampu, kamu kan punya uang!” teriakku. Adikku menoleh dengan tak kalah garang...”Iya!” Aku semakin berteriak, ”Kamu tau gak, Ntar Ibu pasti marahin aku dikira aku gak perhatiin kamu, padahal aku kan dah ngasi duit buat beli lampu kemarin, malah dipecahin!” ”Iya...iya....aku ganti!” Konflik itu diredam oleh mbak Ani, ”Gita, pulang kerja kog marah-marah gini?” ”Lha, habis mbak, kalo gak diganti ntar disangka Ibu aku gak perhatiin Wowo.” jawabku. ”Tadi Wowo juga dah mbak Ani ingetin kog....” Akupun langsung masuk ke kamarku, mendinginkan diri...fiuh...capeknya hari ini.... Dari balik pintu aku dengar suara si kecil Faiz pada Ibunya, Mbak Ani.... ”Mbak Wowo nangis...Umi...” Aku tak ada rasa bersalah sedikitpun. Biarlah, adikku memang seperti itu. Aku marah juga karena sanyang padanya, perhatikan dia. Tapi mungkin aku sedikit berlebihan. Kami sudah terbiasa bertengkar seperti ini sedari kecil, dan cepat reda kog... Selasa, 14 April 2009 19.30 WIB (sepulang kerja) Aku melihat adikku sudah tergeletak di kamarku. Wajahnya pucat dan tangan kirinya sedang dipijat oleh mbah Jiwo, tukang pijat di kampung rumahku. Kamar adikku masih gelap. ”Kenapa lagi?” tanyaku setengah panik. ”Tadi jatuh masang lampu.” ucap mbak Ani. ”Kog bisa?” Akupun diterangkan kejadiannya oleh mbak Ani. Kemudian Ibuku dari tangerang sana menelepon dengan cemas. Langsung saja aku bawa adikku ke UGD JIH memakai motor. Sesampainya disana, iapun langsung ditangani oleh suster dan dokter disana. Ia langsung di rongent dan tampak jelas bahwa tulang atas lengan kirinya patah. Dokter bilang, adikku harus dioperasi. Aku menelepon ibuku tentang keadaan ini. Bila dirasa dari suaranya, Ibuku kaget setengah mati. Namun, anehnya Ibuku masih bisa berfikir rasional dengan berkata, ”Kalau di JIH, itu mahal, askes Wowo gak akan berguna. Bawa saja ke Sardjito. Di JIH minta pertolongan pertama saja.” Aku lemas mendengar pernyataan Ibuku, namun itu memang benar. Akupun jadi bersikap bersikeras terhadap dokter JIH untuk tidak mau rawat inap disana. Hingga aku menandatangani surat penolakan untuk rawat inap. Setelah selesai, aku mengurus administrasi perawatan adikku. Benar, adikku baru dapat rongent dan perawatan pertama saja sudah mencapai 200 ribu. Kuteguhkan adikku untuk kuat pergi ke Sardjito. Aku tahu, ia sudah begitu lemas dan pasrah. Air mata ini hanya mampu menangis dalam hati. Sesampainya di UGD Sardjito jam 21.30 WIB, aku langsung meminta suster disana untuk menolong adikku. Aku jelaskan semua perkara kejadiannya. Kemudian Suster pun memintaku untuk mengurus administrasi di depan UGD. Disinilah kepusingan dimulai, aku bolak-balik antara administrasi dengan ruang UGD untuk melihat kondisi adikku. Di sela-sela, Ibuku terus menelepon dan sms... Beberapa menit, ada dokter yang menangani adikku. Aku jelaskan kembali kejadiannya. Hingga aku bertanya, ”Disini ada dokter ahli tulang, tidak Dok?” Dokter itu menatapku aneh, ”Ya banyak!” Ternyata ketika dokter itu berbalik, name tag yang tertempel bertuliskan ’Dr. Eko-Orthopedi’ Huaaa malu aku! ”Adikmu harus rawat inap dan operasi. Operasi penyambungan tulang. Tapi operasinya tak bisa besok, karena Sardjito kan rumah sakit rujukan, banyak sekali yang mengantri operasi. Kemungkinan bau dua hari lagi. Sementara ini, di gips dulu.” Aku hanya mampu menganguk. Kemudian suster pun menanyakan aku untuk menginap di bangsal kelas berapa, kelas 1, 2 atau 3? Ada Askes tidak? Dan kepusingan pun kembali terjadi, aku harus mengurus administrasi untuk mendapatkan bangsal. “Bangsalnya sudah habis, mbak. Kalau mau mbak pindah ke rumah sakit lain.” kata petugas administrasi UGD. Apaaaaa?????!!!! Wah, gak bisa kayak gini. Akupun ngomong bahwa saya sudah mendapat rekomendasi dokter untuk mendapatkan bangsal di A2. eh tapi malah dijawab seperti ini, ”Lho, dokter itu tidak tahu, saya yang ngecek.” Wah ini gak bener nih....apa maksudnya bangsalnya penuh? Dan aku harus lari ke rumah sakit mana lagi di jam 23.00 WIB seperti ini? Adikku bakalan semakin sakit. Akupun mengadu pada dokter Eko dan Suster, bilang bahwa kata petugas administrasi, bangsal sudah penuh. Lalu Dokter Eko dan suster itu baik hati dan membantu mengurus itu hingga akhirnya adikku mendapatkan bangsal di cendana 2 kamar no 7. Ohya, di sela-sela kepusinganku, hadir Pakdhe dan Om dari keluarga Ibuku yang membantuku mengurus keperluan adikku. Selain itu, aku juga ditemani oleh 2 orang repertoir-ers, Anjar dan mbak Desi yang membawakan makan malam.... Rabu, 15 April 2009 jam 02.00 WIB Adikku resmi masuk bangsal setelah di-rongent kembali untuk kedua kalinya. Aku temani dia dalam kedinginan pagi buta itu. Walah...aku lupa tidak bawa alas tidur, sehingga aku merasakan dinginnya lantai rumah sakit. Tapi tak apa, yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana adikku bisa operasi, memohon doa pada yang kuasa sekaligus menyesal tentang semua yang telah terjadi. Keesokan paginya, aku hanya melakukan apa yang kubisa. Aku melakukan unpaid leave dengan kantorku by sms, melayani adikku dan mengurus keperluan operasi yang membuatku stres (dari masalah alat kesehatan yang harganya jutaan, mencari darah, mengurus askes dan orang tuaku yang belum datang). Tapi dibalik kesulitan terdapat kemudahan. Surat Alam Nasyrah itu benar-benar terjadi. Aku tak sendiri. Ada Mbak Ani dan Pakdhe yang membawakanku makan. Ada Mas Udin FLP yang ternyata kerja di PMI Sardjito yang membuatku akhirnya mendapatkan darah untuk adikku, padahal awalnya stocknya kosong (Thanks banget mas...). Ada Rus, Tribek dan Ayu, sang sarjana farmasi yang membantuku mengenai obat dan alat kesehatan sehingga aku mampu meyakinkan Ibuku. Ada Kak Gun dan Icha, para dokter yang lagi Co-As di Sardjito yang membantuku merawat dan menjamin operasi adikku. Ada teman-teman adikku yang banyak banget (Putri, Ditya, Gita dll) yang telah membuat adikku ceria. Sahabat-sahabatku, Anis, Ifa, Iza, Nana, mb bhety dan mas Topan yang gak henti-hentinya menanyakan kabar adikku. Juga teman-teman SPKP Minut (Mb Tia, M’tarman, M’dian, Mb Armi dan Mb Ria) yang juga nengok. Dan teman-teman kantorku sekarang yang merindukan ketidakhadiranku walau hanya sehari saja. Hingga kini, operasi adikku berjalan dengan lancar. Penyembuhan pun juga berjalan dengan baik. Bahkan hari senin (20 April 2009) kemarin, adikku sudah dapat pulang ke rumah dan mengikuti UAN walaupun tangan kirinya masih di-bidai. Kejadian ini mengajarkan kami sekeluarga untuk ikhlas, ternyata manusia memang hanya mampu merencanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, namun Allah lah yang menentukan takdir terbaiknya. Karena kejadian ini, keluarga kami dapat berkumpul kembali dan semoga semakin kuat untuk menjalani hidup. Sebesar apapun badai yang menimpamu, keluarga akan menerimamu apa adanya. Dan hanya pada Allah lah kita menyerahkan semuanya. 22 April 2009 -gadis biasa-
Catatan pengalaman 9 April 2009 Awalnya, saya ingin benar-benar golput! Silahkan baca kebingungan saya dan betapa apatisnya saya di postingan sebelumnya. Saya memang cukup muak dengan sistem pemilu dan politik Indonesia. Saya memang bukan pakar politik, bukan lagi aktivis mahasiswa, saya hanya warga negara yang biasa saja. Seorang lulusan suatu universitas yang kini bekerja. Pemikiran ’sok aktivis’ saya sepertinya sudah tergerus dengan realita yang saya hadapi setelah kuliah. Tak apa, saya malah berusaha men-combining kedua alam tersebut. Walaupun saya menerima kenyataan pahit, saya dirasa menjadi bodoh semenjak bekerja oleh teman-teman saya yang masih kuliah. Dan saya dirasa menjadi bodoh oleh rekan-rekan sekantor saya karena masih fresh graduate. Serba salah jadinya. Kembali pada pembicaraan tentang PEMILU. Sehari sebelum hari pencontrengan itu, saya kebetulan beli Kompas dan melihat iklan bahwa Starbucks Coffee akan memberikan segelas kopi gratis dengan menunjukkan jari kita yang terkena tinta karena menggunakan hak pilih dalam Pemilu. Mata saya langsung berkejap-kejap, serasa tak percaya. ”Saya belum pernah minum Starbucks Coffee sekalipun!” dan ini kesempatan! Kesempatan menikmati kopi yang penuh dengan label gaya hidup itu. Saya bukan termasuk kaum pengikut gaya hidup secara berlebihan. Apalagi kalo soal fashion! Saya tidak bermasalah bila tidak makan Pizza Hut, KFC, donat J-Co termasuk minum Starbucks Coffee. Namun, kalo soal gratisan, saya ahlinya! Langsung saja saya menulis status dalam facebook saya; ’ada alasan keren buat menyontreng besok; dapat starbucks coffee gratis!’ Singkat cerita, saya batal menjadi golput. Padahal awalnya saya berfikir, okelah saya nyonteng salah satu partai untuk DPRD kota dan provinsi saja, juga salah satu tokoh yang mau jadi DPD. Untuk posisi DPR yang terhomat, awalnya saya mau contreng semua partai karena saking kesalnya saya dengan perilaku plus kebijakan-kebijakan DPR selama ini. Mereka itu bukan perwakilan rakyat namun pengkhianat rakyat, bagi saya. Tapi karena tak tega, ya sudah, saya contreng salah satu partai. Saya hanya mencontreng partai, tidak caleg—karena saya merasa tidak mengenal dengan cukup baik para caleg-caleg itu (saya yakin, sebagian dari mereka akan duduk di kursi gedung DPR, namun sebagian lagi dari mereka akan duduk di kursi gedung RSJ). Kemudian setelah menunggu di TPS hingga tertidur karena antrian yang lama, setelah saya mencontreng, saya langsung ngacir ke Amplaz dan mencari Starbucks Coffee bersama adik saya. Dengan bangganya saya tunjukkan kelingking jari kiri saya ke mbak-mbak pelayan Starbucks, “Nih, lihat saya nyontreng! Asli! Saya nyontreng!” kata saya. Mbak pelayan hanya tersenyum malah bertanya saya nyontreng dimana. Saya jawab sekedarnya, yang penting satu gelas mungil Starbucks Coffee panas sudah dalam genggaman saya. Sial! Rasa kopinya sama aja dengan kopi kapal api tanpa gula! “Namanya juga gratisan, mbak! Ini mungkin kopi yang paling murah.” hibur adik saya. Saya hanya menghela nafas. Ketika kaki saya menyusuri outlet-outlet yang ada di Amplaz, ketika mulut saya meneguk kopi yang mungkin termurah dari penjual kopi dengan ikon bulat warna hijau bergambar wewe gombel (menurut saya....), otak saya berfikir....kog saya material sekali ya? Saya akhirnya tidak golput hanya untuk dapat secangkir Starbucks Coffee. Gratisnya Starbucks Coffe itu mungkin juga cara untuk menggaet kaum muda yang sepertinya tidak peduli dengan negara, agar jadi peduli dengan menggunakan hak pilihnya. Akh, sepertinya cara Starbucks juga populer digunakan oleh para parpol saat menjelang pemilu. Kalau mau nyontreng partai ini, maka akan dapat lima puluh ribu. Kalau nyontreng partai itu, maka anda sebagai petani di desa akan dapat pupuk organik gratis. Kalau mau jadi kader partai ini, maka eventmu akan didanai. Pokoknya reinforcement theory dari mazhab behaviorist sangat digunakan sekali! Kalau kamu melakukan ini maka akan dapat itu. Sebuah kenyataan yang saya dapatkan, ketika bekerja di salah satu desa di Bantul, di satu hari sebelum penyontrengan, seorang kepala RT bingung...benar-benar bingung akan dikemanakan bantuan dari parpol-parpol yang saking banyaknya itu—hanya ketika kampanye! ”Saya juga bingung, semua parpol membantu, lha saya harus meminta warga untuk nyontreng mana?” kata kepala RT itu. Saya diam saja. Namun bos saya dengan mudahnya menyahut, ”Halah, contreng saja semua, Pak. Adil to, jadinya!” Entah konklusi saya ini benar atau tidak sepenuhnya, saya merasa pesta demokrasi ini benar-benar sarat materialisme. Bahkan saya diceritakan bahwa ada sebagian warga desa X yang terang-terangan menjual hak pilihnya. Mereka tuliskan di sebuah papan berbunyi; ”150 ribu-wani gelut!” (terjemahan: ”150 ribu dan berani berantem”.) ini kan bukti bagaimana mereka menyontreng partai bukan karena pilihan akan visi misi partai tersebut, namun materi sebesar apakah yang dapat ditawarkan oleh partai tersebut. Dan bagaimanakah perilaku yang dihasilkan oleh caleg-caleg tersebut? Saya yakin, anda semua sudah dapat menebak. Namun, salahkah warga desa itu? TIDAK. Itu merupakan cerminan bagaimana mereka sudah bosan dan muak akan janji-janji politik. Pun dukungan yang hanya ada ketika saat kampanye saja. Silahkan katakan saya mengada-ada. Namun saya hanya mencurahkan perasaan dan pikiran saya saja. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. -gadis biasa- Saya masih meyakini, ada banyak cara untuk mencintai negeri ini. Salah satunya adalah dengan tetap kritis kemudian menuliskan keresahan itu.
| |